Minggu 25 November 2007, Fathan begitu ceria. Putraku tidak sabar ingin 'tamasya' naik kereta. Dia mandi lebih pagi dari biasanya. Hemmmmm...
"Bunda...Ayah libur? Jadi naik kereta api Thomas (kartun Thomas and Friends kesukaannya) ya," kata Fathan.
"Ya...," sahut kami kompak.
Tet jam 10.00 WIB, Fathan, aku dan doi pun melaju dengan mengendarai sepeda motor ke Stasiun Bekasi. Brummmmm...!
Setiba di stasiun, doi langsung membeli 2 tiket KA Ekspres AC jurusan Bekasi-Kota. Tiketnya Rp 10.000 per orang. Kami pun naik kereta lungsuran Jepang ini. Keretanya resik dan AC-nya berasa banget. Tempat duduknya pun empuk bak sofa.
Fathan yang duduk di tengah tidak henti-hentinya berkomentar. "Itu bangsal kereta ya Bunda? Bangsal Kikmot......," kata Fathan riang saat menyaksikan kereta yang terparkir berjejer.
Kok berhenti Ayah....? tanya Fathan.
"Ya berhenti di Stasiun Gambir dulu," sahut doi.
Fathan tampak mengamati pemandangan. Dia pun berkomentar setiap melihat pintu perlintasan kereta api. "Semua berhenti....kalau nggak, ketablak kereta," celetuknya.
Kami pun akhirnya tiba di Stasiun Kota. Nah....selanjutnya doi lalu membeli tiket untuk pulang ke Bekasi lagi. Sementara aku dan Fathan menunggu di depan kios majalah. Fathan mengawasi tiap kereta yang berhenti di stasiun.
"Itu kereta listrik ya Bunda. Kalau Thomas kereta uap," kata Fathan.
Kami lalu bergegas naik kereta api jurusan Kota-Bekasi. Namun sayangnya, kereta yang kami tumpangi ini semi ekspres via Stasiun Senen. Supaya nggak kesorean! Tarif kereta itu hanya Rp 6.000 per orang. Padahal, doi terlanjur membeli tiket kereta seharga Rp 10.000.
Nah...sambil menunggu kereta berangkat, pedagang asongan ramai menjajakan dagangannya. Ada pedagang tahu sumedang, minuman, jepitan dan mainan.
"Beli tahunya Rp 3.000 ya," kataku.
10 Tahu goreng pun kami santap habis plus cabe rawitnya. Lapar...!
Fathan tidak mau ketinggalan. Dia minta dibelikan kereta bebek warna kuning. Kweeek..kweeek..!
Hanya 30 menit kami sampai ke Stasiun Bekasi. Aku pun membeli salak pondoh seharga Rp 5.000. Lumayan!
Kami kembali ke rumah dengan motor.Tetapi, kami sejenak mengisi perut yang keroncongan dengan semangkuk Bakmi Bangka langganan kami di Jembatan 5. Nyaaam...!
Sayangnya, Fathan tidur hingga tidak memakan bakmi pesenannya. Setelah habis menyantap bakmi, aku dan doi pun pulang tetapi ternyata Fathan bangun dan meminta balik ke kedai bakmi. Fathan mau makan di sana Bunda, nggak mau dibungkus!!!!
Fathan menyantap ludes bakmi. Tidak hanya itu, kami juga sepakat membeli es podeng nan segar untuk dibawa pulang. Asyikkkk...!
Monday, November 26, 2007
Sunday, November 11, 2007
Friday, September 28, 2007
Rumahku Gerobakku
Seorang pria terus berjalan sambil menarik gerobak roda empat. Nafasnya ngos-ngosan dengan peluh menghiasi wajahnya.
Tumpukan kardus dan botol bekas dikumpulkan di dalam badan gerobak. Tidak hanya membawa hasil jerih payah yang dikaisnya seharian, ternyata ada bocah perempuan mungil yang berdiri di dalam gerobak.
Bocah bertubuh kurus itu terlihat asyik memainkan boneka lusuhnya sambil memegang pinggir gerobak. Di samping bocah itu, duduk sang ibu yang sedang memberi ASI kepada adiknya.
Nah...di gerobak bercat hitam pudar itulah Pak Mamat dan keluarga kecilnya melakukan aktivitas sehari-hari mulai dari bekerja, tidur bahkan berteduh dari hujan.
"Kami bekerja mulai dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Barang-barang rongsokan ini akan kami kiloin. Yach lumayan untuk makan," kata Pak Mamat.
Pak Mamat dan keluarga merupakan secuil potret warga Jakarta pinggiran yang tegar berjuang demi sesuap nasi.
Tumpukan kardus dan botol bekas dikumpulkan di dalam badan gerobak. Tidak hanya membawa hasil jerih payah yang dikaisnya seharian, ternyata ada bocah perempuan mungil yang berdiri di dalam gerobak.
Bocah bertubuh kurus itu terlihat asyik memainkan boneka lusuhnya sambil memegang pinggir gerobak. Di samping bocah itu, duduk sang ibu yang sedang memberi ASI kepada adiknya.
Nah...di gerobak bercat hitam pudar itulah Pak Mamat dan keluarga kecilnya melakukan aktivitas sehari-hari mulai dari bekerja, tidur bahkan berteduh dari hujan.
"Kami bekerja mulai dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Barang-barang rongsokan ini akan kami kiloin. Yach lumayan untuk makan," kata Pak Mamat.
Pak Mamat dan keluarga merupakan secuil potret warga Jakarta pinggiran yang tegar berjuang demi sesuap nasi.
Tuesday, August 14, 2007
Horeee....Fathan Bisa Genjot Sepeda
Sepulang kerja Senin 13 Agustus 2007, ada kejutan manis dari putraku, Fathan.
"Bunda...Bunda....Fathan sudah bisa genjot sepeda dong," kata Fathan.
"Wah hebat Mas...tunjukin dong. Bunda mau lihat nih," sahutku di teras rumah.
Fathan langsung mengambil sepeda roda empatnya. Dia pun unjuk gigi. Sepeda warna biru itu digenjotnya dan melaju. Roda sepeda berputar dan pedal terus digenjot. Badannya yang subur tampak lincah membelokkan stang sepeda.
"Tuh Fathan bisa kan Bunda," pamer Fathan.
"Hebat...anak Bunda bisa genjot sepeda," kataku.
Ayahnya pun tidak kalah girangnya. "Anak Ayah pintar ya," puji suamiku sambil mengelus kepala Fathan.
Sepeda mungil itu hadiah ulang tahun ke-2 Fathan dari budenya. Sejak punya sepeda, Fathan belum bisa menggenjot 'putar'. Dia hanya mengendarai sepeda patah-patah seperti bunyi rantainya. Tek..tek...tek...!
Karena belum bisa ngegoes, Fathan kerap ketinggalan dengan temen-teman sebayanya saat bersepeda ria. Fathan juga kerap memutar balik sepedanya terlebih dahulu sebelum sampai garis 'finish' saat bermain. Takut ketinggalan..!
Saat bermain, Fathan suka seenaknya memarkir sepedanya. Dia kadang membanting sepeda dengan posisi 'ditidurkan'. Bruuuk...!
Kebiasaan ini, membuat roda empat sepedanya patah. Nah ....roda itu baru kami ganti Minggu 12 Agustus kemarin. Anakku memilih roda warna merah.
Rupanya roda sepeda baru memacu semangat anakku untuk menggenjot. Apalagi mau pawai sepeda tanggal 17 Agustus nanti. Satu...dua...tiga.... sampai berulang kali!
Selamat Nak...!
"Bunda...Bunda....Fathan sudah bisa genjot sepeda dong," kata Fathan.
"Wah hebat Mas...tunjukin dong. Bunda mau lihat nih," sahutku di teras rumah.
Fathan langsung mengambil sepeda roda empatnya. Dia pun unjuk gigi. Sepeda warna biru itu digenjotnya dan melaju. Roda sepeda berputar dan pedal terus digenjot. Badannya yang subur tampak lincah membelokkan stang sepeda.
"Tuh Fathan bisa kan Bunda," pamer Fathan.
"Hebat...anak Bunda bisa genjot sepeda," kataku.
Ayahnya pun tidak kalah girangnya. "Anak Ayah pintar ya," puji suamiku sambil mengelus kepala Fathan.
Sepeda mungil itu hadiah ulang tahun ke-2 Fathan dari budenya. Sejak punya sepeda, Fathan belum bisa menggenjot 'putar'. Dia hanya mengendarai sepeda patah-patah seperti bunyi rantainya. Tek..tek...tek...!
Karena belum bisa ngegoes, Fathan kerap ketinggalan dengan temen-teman sebayanya saat bersepeda ria. Fathan juga kerap memutar balik sepedanya terlebih dahulu sebelum sampai garis 'finish' saat bermain. Takut ketinggalan..!
Saat bermain, Fathan suka seenaknya memarkir sepedanya. Dia kadang membanting sepeda dengan posisi 'ditidurkan'. Bruuuk...!
Kebiasaan ini, membuat roda empat sepedanya patah. Nah ....roda itu baru kami ganti Minggu 12 Agustus kemarin. Anakku memilih roda warna merah.
Rupanya roda sepeda baru memacu semangat anakku untuk menggenjot. Apalagi mau pawai sepeda tanggal 17 Agustus nanti. Satu...dua...tiga.... sampai berulang kali!
Selamat Nak...!
Tuesday, July 17, 2007
Ayo Sekolah....
Sama seperti orang tua lainnya, Aku dan doi super sibuk mengurusi hari pertama Fathan bersekolah.
Persiapan sudah kulakukan sejak malam. Baju, celana, tas dan sepatu kususun rapih. Biar nggak keburu-buru!
Tet jam 06.00 WIB, Fathan bangun dari tidurnya. Dia meminta sebotol susu hangat dan seiris kue bolo. Sarapan pagi sebelum ke sekolah.
Fathan selanjutnya mandi, berpakaian dan siap-siap ke sekolah. "Fathan mau sekolah Ayah," pamitnya kepada doi sebelum berangkat kerja.
"Baik-baik...ya Nak," pesan doiku.
Fathan dengan diantar aku plus pawangnya "Si Yayuk" berangkat ke sekolah. Dia tampak membawa tas ransel yang berisi makanan dan minuman. Pak Azis (ojek) pun siap mengantar dengan sepeda motornya. Bruuum....!
Setiba di sekolah, Fathan berkenalan dengan temen-temannya Bryan dan Jojo.
Nah....tiba giliran berbaris masuk kelas, Fathan rupanya tidak bisa tinggal diam. Dia memintaku mendampingi hingga masuk ke dalam kelas.
Saat duduk di kelas, mata Fathan yang berjauhan denganku tampak berkaca-kaca. Bunda...Bunda...!
Miss Elisa yang melihatnya langsung memindah tempat duduknya. "Fathan mau dekat Bunda Ya," ujarnya lembut dan dijawab anggukan kepala anak pertamaku.
Hari pertama diisi perkenalan, termasuk Fathan pun berdiri di muka kelas dan memperkenalkan diri.
"Namanya siapa," tanya Miss Gina.
"Fathan," sahutnya.
"Rumahnya di mana," kata Miss lagi.
"Bekasi," jawab Fathan.
Setelah itu, tiba giliran bermain lilin. Setelah diberi contoh Miss Elisa, Fathan mencoba membuat mobil-mobilan dan ular. Lucunya...!
Jam pulang pun tiba, tiap anak diberi hadiah gambar pesawat warna warni.
Namanya hari pertama sekolah, banyak tingkah polah anak-anak yang lucu. Ada yang menangis, ada yang terus memegang tangan sang ibu, ada juga yang ketiduran dan tidak mau duduk alias diam di kelas.
Met belajar Nak...!
Persiapan sudah kulakukan sejak malam. Baju, celana, tas dan sepatu kususun rapih. Biar nggak keburu-buru!
Tet jam 06.00 WIB, Fathan bangun dari tidurnya. Dia meminta sebotol susu hangat dan seiris kue bolo. Sarapan pagi sebelum ke sekolah.
Fathan selanjutnya mandi, berpakaian dan siap-siap ke sekolah. "Fathan mau sekolah Ayah," pamitnya kepada doi sebelum berangkat kerja.
"Baik-baik...ya Nak," pesan doiku.
Fathan dengan diantar aku plus pawangnya "Si Yayuk" berangkat ke sekolah. Dia tampak membawa tas ransel yang berisi makanan dan minuman. Pak Azis (ojek) pun siap mengantar dengan sepeda motornya. Bruuum....!
Setiba di sekolah, Fathan berkenalan dengan temen-temannya Bryan dan Jojo.
Nah....tiba giliran berbaris masuk kelas, Fathan rupanya tidak bisa tinggal diam. Dia memintaku mendampingi hingga masuk ke dalam kelas.
Saat duduk di kelas, mata Fathan yang berjauhan denganku tampak berkaca-kaca. Bunda...Bunda...!
Miss Elisa yang melihatnya langsung memindah tempat duduknya. "Fathan mau dekat Bunda Ya," ujarnya lembut dan dijawab anggukan kepala anak pertamaku.
Hari pertama diisi perkenalan, termasuk Fathan pun berdiri di muka kelas dan memperkenalkan diri.
"Namanya siapa," tanya Miss Gina.
"Fathan," sahutnya.
"Rumahnya di mana," kata Miss lagi.
"Bekasi," jawab Fathan.
Setelah itu, tiba giliran bermain lilin. Setelah diberi contoh Miss Elisa, Fathan mencoba membuat mobil-mobilan dan ular. Lucunya...!
Jam pulang pun tiba, tiap anak diberi hadiah gambar pesawat warna warni.
Namanya hari pertama sekolah, banyak tingkah polah anak-anak yang lucu. Ada yang menangis, ada yang terus memegang tangan sang ibu, ada juga yang ketiduran dan tidak mau duduk alias diam di kelas.
Met belajar Nak...!
Tuesday, July 10, 2007
Krucil yang Super Heboh 2
Langkah kaki kami berenam belum berhenti. Monumen Nasional (Monas) menjadi tujuan wisata kami selanjutnya.
Puas berwisata museum, kami pun meninggalkan bangunan tua itu dan bergegas menuju Monas.
2 Bajaj siap mengantar kami ke Halte Busway Kota. Selanjutnya kami menumpang busway menuju Monas.
Tetapi ternyata....jarak dari halte busway ke Monas lumayan jauh. Apalagi harus membawa Krucil dan perlengkapan 'lenongnya'. Repooot.....! Akhirnya kami memutuskan naik taksi. Bruuuum....sampai deh ke Monas.
Krucil tampak riang gembira dan berlari-larian. Mereka pun tidak sabar memainkan mobil-mobilan dan magnet yang baru dibeli di pedagang asongan.
Karena hari beranjak siang, Bunda Umi sigap mengisi perut Krucil. Satu per satu disuapi secara bergilir dengan nasi plus ayam goreng dan telor. Yummy.....!
Di Monas, kami duduk di hamparan rumput dan pohon yang rindang. "Orang tidak berhenti-henti datang ya. Berapa hektar nih luas lahannya," kata Sis M.
"Lihat tuh yang antre naik ke atas Monas. Nggak tahan deh antrenya. Padahal kalau naik kayak kita liat Jakarta dari gedung BNI 46 saja," ujar Sis S.
Fathan, Sarah, dan Syifa ceria berlari-larian, memainkan mobil-mobilan dan menggambar.
Baju mereka pun tampak kotor karena jatuh dan berguling-guling di rumput. Lucuuunya polah mereka...!
Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB, kami harus meninggalkan Monas. "Kita ke McD Sarinah ya, Sarah mau traktir (hari itu Ultah Sarah)," ajak Sis M.
Kami berenam menumpang taksi menuju Sarinah. Krucil tampak antusias menjajal prosotan di sana. Ayam goreng, spaghetti, aneka minuman dipesan.
"Fathan makan sendiri," kata putraku yang baru pertama kali menjajal spaghetti ini. Sesekali Fathan tampak tersenyum bercanda dengan Syifa. Kedua bocah ini lahap menyantap spaghetti plus suwiran ayam goreng.
Namun ....lihat deh Sarah! Dia tampak serius menyantap spaghetti. Garpunya berusaha dililitkan ke mie bersaus tomat itu.
"Nggak bisa ....nggak bisa Bun," rengek Sarah kala garpunya lepas dari lilitan.
"Nggak usah buru-buru Dik, yang lain saja masih banyak dan lagi makan," bujuk Bunda Umi. Semua makanan dilahap habis. Maklum lapaaar banget.
Santapan di perut belum turun, Tante Irna datang membawa es krim dan kentang. Krucil sangat senang gembira. Kami berlomba makan es krim cup.
Sambil mengawasi Krucil bermain, kami bertiga ngerumpi kentang goreng.
Kenyang...!
Tet.....waktu semakin sore. Kami berenam pun kembali ke rumah masing-masing.
Pertemuan kali ini memang berkesan buat Fathan. Putra pertamaku bertambah teman. Bahkan dia ngambek beras dan menangis saat berpisah. Mbak Syifa & Mbak Sarah mana, Fathan nggak mau pulang," rengeknya.
Bocah....bocah....!
Puas berwisata museum, kami pun meninggalkan bangunan tua itu dan bergegas menuju Monas.
2 Bajaj siap mengantar kami ke Halte Busway Kota. Selanjutnya kami menumpang busway menuju Monas.
Tetapi ternyata....jarak dari halte busway ke Monas lumayan jauh. Apalagi harus membawa Krucil dan perlengkapan 'lenongnya'. Repooot.....! Akhirnya kami memutuskan naik taksi. Bruuuum....sampai deh ke Monas.
Krucil tampak riang gembira dan berlari-larian. Mereka pun tidak sabar memainkan mobil-mobilan dan magnet yang baru dibeli di pedagang asongan.
Karena hari beranjak siang, Bunda Umi sigap mengisi perut Krucil. Satu per satu disuapi secara bergilir dengan nasi plus ayam goreng dan telor. Yummy.....!
Di Monas, kami duduk di hamparan rumput dan pohon yang rindang. "Orang tidak berhenti-henti datang ya. Berapa hektar nih luas lahannya," kata Sis M.
"Lihat tuh yang antre naik ke atas Monas. Nggak tahan deh antrenya. Padahal kalau naik kayak kita liat Jakarta dari gedung BNI 46 saja," ujar Sis S.
Fathan, Sarah, dan Syifa ceria berlari-larian, memainkan mobil-mobilan dan menggambar.
Baju mereka pun tampak kotor karena jatuh dan berguling-guling di rumput. Lucuuunya polah mereka...!
Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB, kami harus meninggalkan Monas. "Kita ke McD Sarinah ya, Sarah mau traktir (hari itu Ultah Sarah)," ajak Sis M.
Kami berenam menumpang taksi menuju Sarinah. Krucil tampak antusias menjajal prosotan di sana. Ayam goreng, spaghetti, aneka minuman dipesan.
"Fathan makan sendiri," kata putraku yang baru pertama kali menjajal spaghetti ini. Sesekali Fathan tampak tersenyum bercanda dengan Syifa. Kedua bocah ini lahap menyantap spaghetti plus suwiran ayam goreng.
Namun ....lihat deh Sarah! Dia tampak serius menyantap spaghetti. Garpunya berusaha dililitkan ke mie bersaus tomat itu.
"Nggak bisa ....nggak bisa Bun," rengek Sarah kala garpunya lepas dari lilitan.
"Nggak usah buru-buru Dik, yang lain saja masih banyak dan lagi makan," bujuk Bunda Umi. Semua makanan dilahap habis. Maklum lapaaar banget.
Santapan di perut belum turun, Tante Irna datang membawa es krim dan kentang. Krucil sangat senang gembira. Kami berlomba makan es krim cup.
Sambil mengawasi Krucil bermain, kami bertiga ngerumpi kentang goreng.
Kenyang...!
Tet.....waktu semakin sore. Kami berenam pun kembali ke rumah masing-masing.
Pertemuan kali ini memang berkesan buat Fathan. Putra pertamaku bertambah teman. Bahkan dia ngambek beras dan menangis saat berpisah. Mbak Syifa & Mbak Sarah mana, Fathan nggak mau pulang," rengeknya.
Bocah....bocah....!
Monday, July 9, 2007
Krucil yang Super Heboh 1
Hari Minggu 8 Juni 2007, hari yang istimewa. Setelah plesir ke Bogor, kali ini kita sepakat tamasya dengan mengajak anak-anak alias kru cilik (Krucil). Cihuuuy.....!
Pukul 09.00 tet, kami janjian kumpul di Halte Busway Komdak. Tetapi bisa ditebak kan? Kecuali Sis S, aku dan Sis M datang telat 30 menit. Ngaret...!
Halooo Sarah...selamat ulangtahun....! Sapa kami sambil menyerahkan bungkusan kado kepada putri kedua temanku.
Sarah dan Syifa yang kompakan memakai kaos hijau ulet keket itu pun tampak malu-malu.
Fathan, putraku tidak kalah heboh. Dia senang bukan kepalang dan berteriak histeris.
"Kenapa Fathan...An?" tanya temanku.
"Girang...," sahutku.
"Gue kira marah," kata temanku keheranan.
Kami berlima langsung bergegas menaiki anak tangga Halte Busway. Kaki-kaki mungil Krucil dengan gesit menaiki tangga. "Goyang juga...," cetus temanku. Maklum Krucil itu montok-montok!
"Hallooo......," kami menyapa Sis S yang duduk menyendiri di sudut halte.
Satu per satu Krucil menyalami Tante Irna dan saling sapa.
Busway yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, dan kami berenam bergegas masuk. Tetapi yachhh....nggak kebagian kursi.
Krucil pun digiring ke belakang supir. Mereka berdiri sambil berpegangan di besi busway. Celotehan mereka pun terdengar. "Liat ada balon....," kata Sarah kepada Fathan sambil menunjukkan jarinya.
Dua bangku pun kosong. Sarah dan Fathan langsung mengisinya. Mereka duduk berdua. Mbak Syifa tetap berdiri. Namun nggak bertahan lama, dua bocah ini ikutan berdiri bersama Syifa. Lumayan.... duduk!
Selang beberapa menit, Krucil pun dapat tempat duduk lagi. Namun Syifa ngambek nggak mau duduk. Sarah sesekali tampak mencoret-coret kertas dengan penanya. Fathan nggak mau ketinggalan. "Mana gambarnya," tanya Sarah.
"Kok nggak ada gambarnya, sini Sarah gambar ya," ujar Sarah yang genap 5 tahun ini.
Bus Transjakarta terus melaku dan akhirnya kami tiba di Halte Kota. Sampai...juga! Setelah itu kami menumpang bajaj 'Bajuri' guna menuju Museum Bahari. Terpecah jadi 2 rombongan.
Fathan rupanya ingin kumpul bareng bersama teman barunya. Sesekali dia celingukan ke belakang bajaj sambil bertanya Mbak Sarah dan Mbak Syifa.
Bajaj warna merah akhirnya sampai mengantar kami ke depan Museum yang terletak dekat pasar.
Setelah membeli tiket total seharga Rp 8.000, kami berenam masuk. Mau tau reaksi Krucil?
Aneka jenis perahu dipandangi dan dipegang. Demikian pula kemudi nahkoda pun dijajal diputar-putar bergantian.
Krucil tampak serius mengamati kerang, kura-kura, dan ikan dan cumi-cumi raksana tahun jebot yang diawetkan yang dipasang di kaca etalase.
"Ikan beracun itu apa sih Bunda," tanya Syifa.
"Ikan yang kalau terkena tubuh, kita akan keracunan," sahut temanku menjelaskan.
Langkah kaki kami menuju halaman museum. Di sana teronggok perahu nelayan. "Ini perahu beneran," tanya Sarah.
"Iyalah perahu beneran," sahut Syifa.
"Emang beneran....," celetuk Sarah sekenanya yang diiringi tawa kami.
"Wow.....ada perahu hijau, ayo naik," ajakku.
Krucil langsung menaiki perahu itu. "Ayo tangannya pura-pura ngayuh," kata Irna sambil mengarahkan pose Krucil. Jepreeeet....!
Tidak hanya di lantai I, kami naik ke lantai II. "Itu mercusuar, ini jangkar perahu," kata kami bak pemadu wisata.
Puas berkeliling museum, kami pun meninggalkan gedung tua itu. Kami menyerbu tukang minuman di pasar seberang. Hauuuuus! Teh botol, dan soft drink pun dipesan dan diseruput. Segeeer!
Pukul 09.00 tet, kami janjian kumpul di Halte Busway Komdak. Tetapi bisa ditebak kan? Kecuali Sis S, aku dan Sis M datang telat 30 menit. Ngaret...!
Halooo Sarah...selamat ulangtahun....! Sapa kami sambil menyerahkan bungkusan kado kepada putri kedua temanku.
Sarah dan Syifa yang kompakan memakai kaos hijau ulet keket itu pun tampak malu-malu.
Fathan, putraku tidak kalah heboh. Dia senang bukan kepalang dan berteriak histeris.
"Kenapa Fathan...An?" tanya temanku.
"Girang...," sahutku.
"Gue kira marah," kata temanku keheranan.
Kami berlima langsung bergegas menaiki anak tangga Halte Busway. Kaki-kaki mungil Krucil dengan gesit menaiki tangga. "Goyang juga...," cetus temanku. Maklum Krucil itu montok-montok!
"Hallooo......," kami menyapa Sis S yang duduk menyendiri di sudut halte.
Satu per satu Krucil menyalami Tante Irna dan saling sapa.
Busway yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, dan kami berenam bergegas masuk. Tetapi yachhh....nggak kebagian kursi.
Krucil pun digiring ke belakang supir. Mereka berdiri sambil berpegangan di besi busway. Celotehan mereka pun terdengar. "Liat ada balon....," kata Sarah kepada Fathan sambil menunjukkan jarinya.
Dua bangku pun kosong. Sarah dan Fathan langsung mengisinya. Mereka duduk berdua. Mbak Syifa tetap berdiri. Namun nggak bertahan lama, dua bocah ini ikutan berdiri bersama Syifa. Lumayan.... duduk!
Selang beberapa menit, Krucil pun dapat tempat duduk lagi. Namun Syifa ngambek nggak mau duduk. Sarah sesekali tampak mencoret-coret kertas dengan penanya. Fathan nggak mau ketinggalan. "Mana gambarnya," tanya Sarah.
"Kok nggak ada gambarnya, sini Sarah gambar ya," ujar Sarah yang genap 5 tahun ini.
Bus Transjakarta terus melaku dan akhirnya kami tiba di Halte Kota. Sampai...juga! Setelah itu kami menumpang bajaj 'Bajuri' guna menuju Museum Bahari. Terpecah jadi 2 rombongan.
Fathan rupanya ingin kumpul bareng bersama teman barunya. Sesekali dia celingukan ke belakang bajaj sambil bertanya Mbak Sarah dan Mbak Syifa.
Bajaj warna merah akhirnya sampai mengantar kami ke depan Museum yang terletak dekat pasar.
Setelah membeli tiket total seharga Rp 8.000, kami berenam masuk. Mau tau reaksi Krucil?
Aneka jenis perahu dipandangi dan dipegang. Demikian pula kemudi nahkoda pun dijajal diputar-putar bergantian.
Krucil tampak serius mengamati kerang, kura-kura, dan ikan dan cumi-cumi raksana tahun jebot yang diawetkan yang dipasang di kaca etalase.
"Ikan beracun itu apa sih Bunda," tanya Syifa.
"Ikan yang kalau terkena tubuh, kita akan keracunan," sahut temanku menjelaskan.
Langkah kaki kami menuju halaman museum. Di sana teronggok perahu nelayan. "Ini perahu beneran," tanya Sarah.
"Iyalah perahu beneran," sahut Syifa.
"Emang beneran....," celetuk Sarah sekenanya yang diiringi tawa kami.
"Wow.....ada perahu hijau, ayo naik," ajakku.
Krucil langsung menaiki perahu itu. "Ayo tangannya pura-pura ngayuh," kata Irna sambil mengarahkan pose Krucil. Jepreeeet....!
Tidak hanya di lantai I, kami naik ke lantai II. "Itu mercusuar, ini jangkar perahu," kata kami bak pemadu wisata.
Puas berkeliling museum, kami pun meninggalkan gedung tua itu. Kami menyerbu tukang minuman di pasar seberang. Hauuuuus! Teh botol, dan soft drink pun dipesan dan diseruput. Segeeer!
Thursday, June 21, 2007
McD=MP4=Jaka Sembung
Halooo.....! Sapaan hangat teman menyapaku via YM.
Temanku ini tengah meliput di Negeri Singa.
Kami pun bertukar cerita. Ibu 2 putri ini menceritakan pengalamannya.
"Biaya hidup di Singapura supermahal. Sekali makan saja mesti merogoh duit Rp 150 Juta," kata perempuan kelahiran 1971 ini.
"Mahal banget ce........gue beli burger Mc D aja Rp 37 ribu," ujarnya.
Sambil terus menerima laporan, aku terus saut-sautan dengannya di komputer. Obrolan itu pun didel! Takut ada yang baca. Hehehee....
"Wah murah tuh sis.....," sahutku (sambil membayangkan sis M mungkin beli MP4 buat Mas Ton). Biasanya barang elektronik itu dijual berkisar Rp 450 ribu dan Rp 1 juta.
Lantas.....aku berfikir untuk nitip membelinya. Mumpung murah buat doi! pikirku. "Titip dong......uangnya entar gue ganti," balasku lagi sambil terus menerus tak...tik...tak...tik...(ngetik) laporan.
Hehehehehe........
Aku bertanya-tanya saat membaca jawabannya. Kok ketawa....!
Nitip?????????? tanya temanku.
"Iya nitip ya, kalau perlu ngutang sama Arry (teman yang juga meliput ke Singapura). Nanti gue bayar," sahutku lagi.
"Sis.....di Jakarta aja belinya, burger Mc D cuma 20 ribu kok," kata temanku lagi.
Waaaaaks.........BURGER?????????????
Hahahahaha.........sori sis nggak nyambung! balasku.
Hahahahaha.......jaka sembung bawa golok lu sis! timpal temanku.
Ciaaaaaa1....Ciaaaaat.....!!!
Temanku ini tengah meliput di Negeri Singa.
Kami pun bertukar cerita. Ibu 2 putri ini menceritakan pengalamannya.
"Biaya hidup di Singapura supermahal. Sekali makan saja mesti merogoh duit Rp 150 Juta," kata perempuan kelahiran 1971 ini.
"Mahal banget ce........gue beli burger Mc D aja Rp 37 ribu," ujarnya.
Sambil terus menerima laporan, aku terus saut-sautan dengannya di komputer. Obrolan itu pun didel! Takut ada yang baca. Hehehee....
"Wah murah tuh sis.....," sahutku (sambil membayangkan sis M mungkin beli MP4 buat Mas Ton). Biasanya barang elektronik itu dijual berkisar Rp 450 ribu dan Rp 1 juta.
Lantas.....aku berfikir untuk nitip membelinya. Mumpung murah buat doi! pikirku. "Titip dong......uangnya entar gue ganti," balasku lagi sambil terus menerus tak...tik...tak...tik...(ngetik) laporan.
Hehehehehe........
Aku bertanya-tanya saat membaca jawabannya. Kok ketawa....!
Nitip?????????? tanya temanku.
"Iya nitip ya, kalau perlu ngutang sama Arry (teman yang juga meliput ke Singapura). Nanti gue bayar," sahutku lagi.
"Sis.....di Jakarta aja belinya, burger Mc D cuma 20 ribu kok," kata temanku lagi.
Waaaaaks.........BURGER?????????????
Hahahahaha.........sori sis nggak nyambung! balasku.
Hahahahaha.......jaka sembung bawa golok lu sis! timpal temanku.
Ciaaaaaa1....Ciaaaaat.....!!!
Thursday, June 14, 2007
Ketroprak Pengkolan
Di ujung jalan di Jembatan 6 Perumnas Bojong Menteng, belasan orang berkerumun. Ada yang duduk-duduk, ada yang berdiri dan ada yang nangkring di atas motor. Mereka mengerubungi sebuah gerobak.
Aku dan eks doi pun jadi penasaran. Jual apa sih kok rame banget ya Yah...? tanyaku pada doi.
Selepas pulang gawe pada 13 Juni 2007, kami pun mampir untuk menjejalnya.
Sepasang suami istri paruh baya tampak super sibuk. Piring-piring dijejerin di atas gerobak. Lalu di atasnya ditaruh cabe, bawang putih, garam, gula dan bumbu kacang. Tangan mereka telaten mengulek bumbu hingga halus.
Setelah itu, ketupat, tahu, bihun dan kerupuk pun diletakkan. Terakhir tinggal disiram kecap. Tereeeng...ketoprak siap disantap!
Rasanya....
Bumbu kacangnya super legit, tahu goreng dan ketupatnya lembut, demikian pula dengan mie bihunnya. Yang paling ventiiing, rasa pedasnya menggoyang lidahku untuk teruuus....teruuus menyantapnya! Mak Nyuzzz...!
Di lidahku, ketoprak inilah yang paling enak yang pernah ku makan. Beda banget dengan ketoprak yang lewat di depan rumahku. Rasa ketoprak yang eunaaak menebus kelelahanku antre panjang.
Dengan uang Rp 5.000, penasaran kami terbayar dengan sepiring ketoprak yummy ini.
Saat kami pulang dengan perut kenyang, 10 orang masih menunggu giliran. Mereka menunggu ketoprak pesanan untuk dibawa pulang.
Praaaak...Ketopraaak... preman...preman...! Upsss....
Aku dan eks doi pun jadi penasaran. Jual apa sih kok rame banget ya Yah...? tanyaku pada doi.
Selepas pulang gawe pada 13 Juni 2007, kami pun mampir untuk menjejalnya.
Sepasang suami istri paruh baya tampak super sibuk. Piring-piring dijejerin di atas gerobak. Lalu di atasnya ditaruh cabe, bawang putih, garam, gula dan bumbu kacang. Tangan mereka telaten mengulek bumbu hingga halus.
Setelah itu, ketupat, tahu, bihun dan kerupuk pun diletakkan. Terakhir tinggal disiram kecap. Tereeeng...ketoprak siap disantap!
Rasanya....
Bumbu kacangnya super legit, tahu goreng dan ketupatnya lembut, demikian pula dengan mie bihunnya. Yang paling ventiiing, rasa pedasnya menggoyang lidahku untuk teruuus....teruuus menyantapnya! Mak Nyuzzz...!
Di lidahku, ketoprak inilah yang paling enak yang pernah ku makan. Beda banget dengan ketoprak yang lewat di depan rumahku. Rasa ketoprak yang eunaaak menebus kelelahanku antre panjang.
Dengan uang Rp 5.000, penasaran kami terbayar dengan sepiring ketoprak yummy ini.
Saat kami pulang dengan perut kenyang, 10 orang masih menunggu giliran. Mereka menunggu ketoprak pesanan untuk dibawa pulang.
Praaaak...Ketopraaak... preman...preman...! Upsss....
Friday, June 8, 2007
Rahasia Sahabat.....
Setiap manusia memiliki rahasia dalam hidupnya. Ada yang disimpan rapat-rapat. Ada juga yang bersedia berbagi. Tentunya dengan orang yang dipercaya, salah satunya dengan SAHABAT.
Minggu 3 Juni 2007, aku, eks doi dan Fathan melakukan kunjungan balasan ke rumah sahabat lamaku, Viet. Brummmm....!
Setelah sempat bertanya ke sana ke mari, kami akhirnya menginjakkan kaki di rumah bercat putih di perumahan elit itu.
"Assalamualaikum....," salam kami.
Viet, Mas Pri (suaminya) dan Fani menyambut ramah. Kami pun dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Sepiring gorengan dan es sirup disajikan.
Setelah berbincang 10 menit, Fathan mengajak bermain di taman depan rumah Viet.
"Bunda...Fathan mau main ayunan," pintanya
Aku, Viet dan Fani lantas mengajak Fathan ke luar. Sementara eks doi dan Mas Pri mengobrol di ruang tamu.
Ada banyak mainan di taman depan rumah Viet. Ada prosotan, ayunan, dan jungkat-jangkit.
Fathan dan Fani bermain bersama. Sedangkan aku dan Viet ngobrol ria. Kangen...kangenan...!
Tiba-tiba mimik wajah Viet berubah serius. "An...aku mau ngomong sesuatu. Ibu dan adik-adik belum tahu," kata Viet lirih.
Aku yang tadinya cekakakan ikutan menjadi serius. "Ada apa Viet....," tanyaku.
Viet pun membagi kisahnya, yang tidak semua orang tahu. Dia membagi sedikit beban yang menghimpitnya. Mulai dari kisruh di balik mutasi sang suami, anak, hingga urusan ranjang.
Plak...plok...! Wajahku seperti ditampar. Apa yang kulihat secara kasat mata ternyata tidak seindah bayanganku. Viet kini tengah berjuang keras agar kapalnya tidak tenggelam dan karam.
"Kepala sampai cekat cekot An...mikirin semua ini. Kemarin saja sakit seminggu. Tiap malam, aku selalu tahajud minta petunjuk-Nya," kata Viet yang matanya tampak berkaca-kaca.
"Bersyukurlah An...kamu punya pekerjaan, suami yang baik, badan yang sehat, dan anak yang lucu," ujarnya.
Terima kasih ya Allah, pikiranku Kau luruskan. Lewat tangan-tangan SAHABAT-ku Kau luruskan jalanku yang telah keliru menilai.
Terima kasih SAHABAT........
Minggu 3 Juni 2007, aku, eks doi dan Fathan melakukan kunjungan balasan ke rumah sahabat lamaku, Viet. Brummmm....!
Setelah sempat bertanya ke sana ke mari, kami akhirnya menginjakkan kaki di rumah bercat putih di perumahan elit itu.
"Assalamualaikum....," salam kami.
Viet, Mas Pri (suaminya) dan Fani menyambut ramah. Kami pun dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Sepiring gorengan dan es sirup disajikan.
Setelah berbincang 10 menit, Fathan mengajak bermain di taman depan rumah Viet.
"Bunda...Fathan mau main ayunan," pintanya
Aku, Viet dan Fani lantas mengajak Fathan ke luar. Sementara eks doi dan Mas Pri mengobrol di ruang tamu.
Ada banyak mainan di taman depan rumah Viet. Ada prosotan, ayunan, dan jungkat-jangkit.
Fathan dan Fani bermain bersama. Sedangkan aku dan Viet ngobrol ria. Kangen...kangenan...!
Tiba-tiba mimik wajah Viet berubah serius. "An...aku mau ngomong sesuatu. Ibu dan adik-adik belum tahu," kata Viet lirih.
Aku yang tadinya cekakakan ikutan menjadi serius. "Ada apa Viet....," tanyaku.
Viet pun membagi kisahnya, yang tidak semua orang tahu. Dia membagi sedikit beban yang menghimpitnya. Mulai dari kisruh di balik mutasi sang suami, anak, hingga urusan ranjang.
Plak...plok...! Wajahku seperti ditampar. Apa yang kulihat secara kasat mata ternyata tidak seindah bayanganku. Viet kini tengah berjuang keras agar kapalnya tidak tenggelam dan karam.
"Kepala sampai cekat cekot An...mikirin semua ini. Kemarin saja sakit seminggu. Tiap malam, aku selalu tahajud minta petunjuk-Nya," kata Viet yang matanya tampak berkaca-kaca.
"Bersyukurlah An...kamu punya pekerjaan, suami yang baik, badan yang sehat, dan anak yang lucu," ujarnya.
Terima kasih ya Allah, pikiranku Kau luruskan. Lewat tangan-tangan SAHABAT-ku Kau luruskan jalanku yang telah keliru menilai.
Terima kasih SAHABAT........
Tuesday, June 5, 2007
Apa Khabar Sahabat?
Pulang kerja...aku diberitahukan si Yayuk ada telepon dari teman saat kuliah di Atma Jaya, Yogyakarta.
Telepon dari siapa? tanyaku.
"Viet Bu," sahut si Yayuk sambil memberikan nomor kontak rumah yang diberikan Viet.
Benakku melayang pada sepenggal kisah saat menimba ilmu di Kota Gudeg. Kami berdua memang temenan dan kompak. Berangkat kuliah, kadang boncengan bareng naik motor. Demikian pula jika bolos. Hehehehe......!
Meski sahabat, kami tetap sehat dalam bersaing mengejar nilai A pada setiap mata pelajaran. Kami belajar bersama dan saling membantu.
Kami juga selalu curhat soal urusan hati, termasuk masalah keluarga. Aku puna dekat dengan orangtua dan adik-adiknya yang tinggal di Kota Gudeg. Lumayan juga dapat makan gratis jika sedang singgah di rumahnya.
Namun.....
Di tengah perkuliahan akhir....Viet yang kelahiran 1972 itu akhirnya dipersunting doinya, Mas Pri, yang usianya beda 11 tahun.
Aku dan Viet mulai jarang bertemu di bangku kuliah. Aku menjalani garis hidupku dengan terus belajar hingga tamat dari Atma Jaya. Sedangkan Viet cuti kuliah karena harus mengikuti tugas sang suaminya.
Meski sibuk di dunia masing-masing, aku selalu singgah dan kadang menginap di rumah Viet, yang saat itu menemani Mas Pri dinas di Jakarta. Kami pun masih teleponan ria atau mengirim SMS. Tetapi akhirnya hubungan kami putus. Pet...!
Nah......telepon Viet menyambung kembali komunikasi kami yang bertahun-tahun terputus.
"Aku sekarang tinggal lagi di Bekasi An. Mas Pri pindah dinas lagi," kata Viet dari balik telepon.
Suaranya masih ramah seperti dulu, tidak ada yang berubah.
Viet pun menanyakan khabarku. Dia meminta bertemu.
"Aku main ya ke rumah," ujarnya.
"Boleh," sahutku.
Selang beberapa hari telepon, Viet mencari jejakku di Bekasi. Saat itu, aku pas cuti 3 hari lantaran si Yayuk mudik. Doiku juga pas nggak gawe karena flu berat.
Bersama Viet dan Mas Pri singgah di rumah mungilku yang super jauh.
Wooow........sahabatku cantik sekali! kataku berdecak kagum.
Rambutnya panjang, tubuhnya langsing dengan baju ketat. Tetapi Mas Pri tampak makin tua dimakan usia. Anjlok...!
Kami bercerita panjang lebar tentang kisah masing-masing. Mulai dari khabar putri Viet, si Funny sampai berita gempa Yogya.
Fathan pun tidak mau ketinggalan ikut-ikutan memamerkan foto miliknya. Canda tawa terdengar seperti saat kami kuliah dulu. Kenangan semasa kuliah juga berita duka disampaikan Viet.
"Bapak meninggal An, lambungnya bocor," kata Viet lirih saat kutanya kabar Bapak & Ibunya di Yogyakarta.
"Anakku kedua juga keguguran, kecapeaan bolak balik Semarang-Yogyakarta, nyetir sendiri," lanjutnya sambil melihat-lihat foto perkawinanku.
Setelah 30 menit, Viet dan Mas Pri pamitan pulang. "Kapan-kapan kita main ke rumah ya," kataku.
Byeeee.......!
Telepon dari siapa? tanyaku.
"Viet Bu," sahut si Yayuk sambil memberikan nomor kontak rumah yang diberikan Viet.
Benakku melayang pada sepenggal kisah saat menimba ilmu di Kota Gudeg. Kami berdua memang temenan dan kompak. Berangkat kuliah, kadang boncengan bareng naik motor. Demikian pula jika bolos. Hehehehe......!
Meski sahabat, kami tetap sehat dalam bersaing mengejar nilai A pada setiap mata pelajaran. Kami belajar bersama dan saling membantu.
Kami juga selalu curhat soal urusan hati, termasuk masalah keluarga. Aku puna dekat dengan orangtua dan adik-adiknya yang tinggal di Kota Gudeg. Lumayan juga dapat makan gratis jika sedang singgah di rumahnya.
Namun.....
Di tengah perkuliahan akhir....Viet yang kelahiran 1972 itu akhirnya dipersunting doinya, Mas Pri, yang usianya beda 11 tahun.
Aku dan Viet mulai jarang bertemu di bangku kuliah. Aku menjalani garis hidupku dengan terus belajar hingga tamat dari Atma Jaya. Sedangkan Viet cuti kuliah karena harus mengikuti tugas sang suaminya.
Meski sibuk di dunia masing-masing, aku selalu singgah dan kadang menginap di rumah Viet, yang saat itu menemani Mas Pri dinas di Jakarta. Kami pun masih teleponan ria atau mengirim SMS. Tetapi akhirnya hubungan kami putus. Pet...!
Nah......telepon Viet menyambung kembali komunikasi kami yang bertahun-tahun terputus.
"Aku sekarang tinggal lagi di Bekasi An. Mas Pri pindah dinas lagi," kata Viet dari balik telepon.
Suaranya masih ramah seperti dulu, tidak ada yang berubah.
Viet pun menanyakan khabarku. Dia meminta bertemu.
"Aku main ya ke rumah," ujarnya.
"Boleh," sahutku.
Selang beberapa hari telepon, Viet mencari jejakku di Bekasi. Saat itu, aku pas cuti 3 hari lantaran si Yayuk mudik. Doiku juga pas nggak gawe karena flu berat.
Bersama Viet dan Mas Pri singgah di rumah mungilku yang super jauh.
Wooow........sahabatku cantik sekali! kataku berdecak kagum.
Rambutnya panjang, tubuhnya langsing dengan baju ketat. Tetapi Mas Pri tampak makin tua dimakan usia. Anjlok...!
Kami bercerita panjang lebar tentang kisah masing-masing. Mulai dari khabar putri Viet, si Funny sampai berita gempa Yogya.
Fathan pun tidak mau ketinggalan ikut-ikutan memamerkan foto miliknya. Canda tawa terdengar seperti saat kami kuliah dulu. Kenangan semasa kuliah juga berita duka disampaikan Viet.
"Bapak meninggal An, lambungnya bocor," kata Viet lirih saat kutanya kabar Bapak & Ibunya di Yogyakarta.
"Anakku kedua juga keguguran, kecapeaan bolak balik Semarang-Yogyakarta, nyetir sendiri," lanjutnya sambil melihat-lihat foto perkawinanku.
Setelah 30 menit, Viet dan Mas Pri pamitan pulang. "Kapan-kapan kita main ke rumah ya," kataku.
Byeeee.......!
Salamku Sahabat....
Telah lama tak bersua
dan sekarang. Kau di depan mata
Tidak ubah. Sikap tutur kata
Tetap akrab. Ceria harapan jiwa
Sahabat
Penuh suka
Betapa bahagia berjumpa
Salamku
Apa khabar di hidupmu
Sekian waktu. Adakah kau baik slalu
Sahabat
Dalam duka
Pelita kecil dalam gulita
Salamku
Untuk berbagi beban
dan saling mengisi
Tak perlu kita sendiri
Oh katakan rahasiamu
Ketika tak semua orang tahu
(KLA PROJECT)
dan sekarang. Kau di depan mata
Tidak ubah. Sikap tutur kata
Tetap akrab. Ceria harapan jiwa
Sahabat
Penuh suka
Betapa bahagia berjumpa
Salamku
Apa khabar di hidupmu
Sekian waktu. Adakah kau baik slalu
Sahabat
Dalam duka
Pelita kecil dalam gulita
Salamku
Untuk berbagi beban
dan saling mengisi
Tak perlu kita sendiri
Oh katakan rahasiamu
Ketika tak semua orang tahu
(KLA PROJECT)
Monday, June 4, 2007
Serunya...Berburu di Kota Hujan
Tet Jumat 1 Juni pukul 10.00 WIB, kami bertemu di Stasiun Bogor, Jawa Barat. Kota hujan menjadi sasaran penjelajahan mengisi libur panjang.
Pasar Sukasari jadi tujuan pertama kami di Kota Bogor. Di tempat itulah, berbagai makanan khas Bogor dijajakan. Ada asinan, cincau, toge goreng, kue rangi, dan roti unyil.
Kruyuuuk....cacing di perut mulai menari. Lapaaar! Kami pun singgah di sebuah warung di dalam Pasar Sukasari. Warung itu menjual toge goreng dan aneka soto.
Setelah 'isi bensin', kami lalu membeli oleh-oleh dahulu mengingat jalur ini tidak akan dilewati saat kami pulang nanti. Kami naik turun mikrolet dari satu tempat ke tempat lain.
Puas membeli buah tangan untuk keluarga, kami menuju PD HASAN. Di toko itulah dijual aneka bahan mulai bahan kebaya, sprei, kemeja, celana, dan jins. Pokoke komplit! Harganya pun murah meriah. Per kilo bekisar Rp 45 ribu sampai Rp 60 ribu.
Bisa juga tidak beli kiloan, misalnya 1 ons bahan kemeja yang gue beli cuma Rp 8.500. Murah kan...? Bahannya kayak bahan bermerk Accent lagi.
Penjelajahan kami selanjutnya TAJUR. Wilayah ini dikenal dengan produksi tasnya. Tas bermacam model dan merk ada di sana. Gue memang ingin sekali mencari tas ransel buat 'gawe'.
Sekitar 10 menit berkeliling toko, gue akhirnya menemukan tas ransel warna coklat. Tas ini modelnya simpel dan harganya pun sesuai kantong.
Tik...tik...tik...Hujan gerimis menyambut kami saat meninggalkan toko tas itu. Padahal cuaca panas dan terik matahari menyengat kulit.
Salah seorang teman gue nyeletuk. "Kalau hujan panas gini, biasanya hujan orang meninggal," ujar teman gue sambil sibuk mengambil gambar kemacetan di Kota Hujan itu.
Kami terakhir akan menyambangi factory outlet di sepanjang Jalan Padjadjaran. Wush...!
Sebelum berburu fashion, kami mengisi perut dengan semangkok somay. Ada somay, pare, kol, tahu dan disiram sambel kacang. Pesen sesuai selera, Mak Nyuzzz!
Kami masuk ke dalam salah satu factory outlet. Gue sebenarnya nggak minat belanja baju or celana. Ukuran body yang langsing ini kadang membuat frustasi mencari pakaian.
Mata gue pun tertarik sebuah model celana jins. Wauw...ada ukuran big lagi! Nah celana ukuran jumbo ini akhirnya gue beli. Mumpung ada yang muat...hehehe!
Puas belanja, kami pun pulang ke rumah tepat pukul 16.00 WIB. Walah perjalanan masih jauuuuuh....! Meski betis berkonde, gue puas banget!
Pasar Sukasari jadi tujuan pertama kami di Kota Bogor. Di tempat itulah, berbagai makanan khas Bogor dijajakan. Ada asinan, cincau, toge goreng, kue rangi, dan roti unyil.
Kruyuuuk....cacing di perut mulai menari. Lapaaar! Kami pun singgah di sebuah warung di dalam Pasar Sukasari. Warung itu menjual toge goreng dan aneka soto.
Setelah 'isi bensin', kami lalu membeli oleh-oleh dahulu mengingat jalur ini tidak akan dilewati saat kami pulang nanti. Kami naik turun mikrolet dari satu tempat ke tempat lain.
Puas membeli buah tangan untuk keluarga, kami menuju PD HASAN. Di toko itulah dijual aneka bahan mulai bahan kebaya, sprei, kemeja, celana, dan jins. Pokoke komplit! Harganya pun murah meriah. Per kilo bekisar Rp 45 ribu sampai Rp 60 ribu.
Bisa juga tidak beli kiloan, misalnya 1 ons bahan kemeja yang gue beli cuma Rp 8.500. Murah kan...? Bahannya kayak bahan bermerk Accent lagi.
Penjelajahan kami selanjutnya TAJUR. Wilayah ini dikenal dengan produksi tasnya. Tas bermacam model dan merk ada di sana. Gue memang ingin sekali mencari tas ransel buat 'gawe'.
Sekitar 10 menit berkeliling toko, gue akhirnya menemukan tas ransel warna coklat. Tas ini modelnya simpel dan harganya pun sesuai kantong.
Tik...tik...tik...Hujan gerimis menyambut kami saat meninggalkan toko tas itu. Padahal cuaca panas dan terik matahari menyengat kulit.
Salah seorang teman gue nyeletuk. "Kalau hujan panas gini, biasanya hujan orang meninggal," ujar teman gue sambil sibuk mengambil gambar kemacetan di Kota Hujan itu.
Kami terakhir akan menyambangi factory outlet di sepanjang Jalan Padjadjaran. Wush...!
Sebelum berburu fashion, kami mengisi perut dengan semangkok somay. Ada somay, pare, kol, tahu dan disiram sambel kacang. Pesen sesuai selera, Mak Nyuzzz!
Kami masuk ke dalam salah satu factory outlet. Gue sebenarnya nggak minat belanja baju or celana. Ukuran body yang langsing ini kadang membuat frustasi mencari pakaian.
Mata gue pun tertarik sebuah model celana jins. Wauw...ada ukuran big lagi! Nah celana ukuran jumbo ini akhirnya gue beli. Mumpung ada yang muat...hehehe!
Puas belanja, kami pun pulang ke rumah tepat pukul 16.00 WIB. Walah perjalanan masih jauuuuuh....! Meski betis berkonde, gue puas banget!
Wednesday, May 16, 2007
Yayuk Sayang....Yayuk Malang....
Witri. Itulah nama asli perempuan berusia 40 tahunan yang tinggal bersama keluarga kecilku sejak akhir tahun 2003. Kami pun akrab memanggilnya dengan sebutan 'Yayuk'.
Yayuk ikut 'bergabung' sejak kehamilan pertamaku menginjak 8 bulan. Perempuan asal Brebes ini banyak membantuku dalam mengurus rumah tangga. Mulai mencuci baju, membersihkan rumah, memasak, terutama merawat buah hatiku, Fathan.
Janda beranak 3 ini kerjanya telaten dan resikan. Kami bersyukur sekali dibantunya...
Fathan lengket banget dengan Yayuk. Gimana nggak? Tiap hari bocah 3,5 tahun itu diasuh si Yayuk. Lucunya...kadang mereka berantem, tetapi mereka kadang akur dan kompak.
Yach....! Yayuk menjadi tumpahan kekesalan Fathan saat dilarang bermain dengan teman-temannya pada waktu tidur tiba atau pun saat ngambek karena teman-temannya yang sedang bermain, dipanggil pulang orang tua mereka ke rumah.
Rambut Yayuk yang panjang pun jadi sasaran jambak, kadang dia juga ditendang, dan dipukul. "Yayuk nakal...Yayuk jelek," kata Fathan sambil menangis. Duh..nakaaalnya anakku!.
Tetapi...setelah itu anakku menyesal dan meminta maaf. "Yayuk...maafin Fathan," kata Fathan sambil memeluk Yayuk.
Fathan juga seakan tidak bisa lama-lama ditinggal Yayuk. Pernah belum 1 hari Yayuk mudik, Fathan sudah mencari dan terus menanyakannya. "Bunda Yayuk kapan pulang," tanya Fathan.
Tidak hanya Fathan yang kangen, aku juga kalang kabut ditinggal Yayuk. Cuti pun terpaksa diambil untuk menggantikan kerjaan Yayuk. Mencuci, masak, beresin rumah! Super sibuuuuk!
Ternyata....
Yayuk juga kangen sama kami. "Di rumah, saya juga kepikiran sama Fathan dan kasihan Ibu capek," kata Yayuk.
Makasih Yayuk....!
Yayuk ikut 'bergabung' sejak kehamilan pertamaku menginjak 8 bulan. Perempuan asal Brebes ini banyak membantuku dalam mengurus rumah tangga. Mulai mencuci baju, membersihkan rumah, memasak, terutama merawat buah hatiku, Fathan.
Janda beranak 3 ini kerjanya telaten dan resikan. Kami bersyukur sekali dibantunya...
Fathan lengket banget dengan Yayuk. Gimana nggak? Tiap hari bocah 3,5 tahun itu diasuh si Yayuk. Lucunya...kadang mereka berantem, tetapi mereka kadang akur dan kompak.
Yach....! Yayuk menjadi tumpahan kekesalan Fathan saat dilarang bermain dengan teman-temannya pada waktu tidur tiba atau pun saat ngambek karena teman-temannya yang sedang bermain, dipanggil pulang orang tua mereka ke rumah.
Rambut Yayuk yang panjang pun jadi sasaran jambak, kadang dia juga ditendang, dan dipukul. "Yayuk nakal...Yayuk jelek," kata Fathan sambil menangis. Duh..nakaaalnya anakku!.
Tetapi...setelah itu anakku menyesal dan meminta maaf. "Yayuk...maafin Fathan," kata Fathan sambil memeluk Yayuk.
Fathan juga seakan tidak bisa lama-lama ditinggal Yayuk. Pernah belum 1 hari Yayuk mudik, Fathan sudah mencari dan terus menanyakannya. "Bunda Yayuk kapan pulang," tanya Fathan.
Tidak hanya Fathan yang kangen, aku juga kalang kabut ditinggal Yayuk. Cuti pun terpaksa diambil untuk menggantikan kerjaan Yayuk. Mencuci, masak, beresin rumah! Super sibuuuuk!
Ternyata....
Yayuk juga kangen sama kami. "Di rumah, saya juga kepikiran sama Fathan dan kasihan Ibu capek," kata Yayuk.
Makasih Yayuk....!
Tuesday, May 8, 2007
Si 'Mak Yuzzz' Bondan
Mak Yuzzz....! Pujian itu yang dilontarkan Bondan Winarno setelah menyantap aneka hidangan ketika plesir keliling daerah.
Wisata Kuliner yang dibawakan Bondan Winarno di Trans TV menjadi acara favoritku saat mengisi waktu senggang libur ngantor.
Kadang aku membawa memo untuk mencatat resep yang diujikan Bondan. Resep itu pun kerap dipraktekkan. Sreng...sreng...sreng!
Masakan yang dicicip Bondan benar-benar membuatku ngiler ingin mencobanya. Hmmmm....!
"Enaknya jadi Bondan, jalan-jalan terus makan deh," khayalku.
Pria berlogat Jawa itu pas banget membawakan acara hingga membuat penonton seakan diajaknya 'tamasya' dan 'serasa' ikut menikmati hidangan.
Komentar-komentar seputar cita rasa pun terdengar tidak asal sebab pria berambut plontos itu mengerti akan bumbu-bumbu masakan yang digunakan.
Andaaai.... A...A...Aku Jadi Bondan!
Wisata Kuliner yang dibawakan Bondan Winarno di Trans TV menjadi acara favoritku saat mengisi waktu senggang libur ngantor.
Kadang aku membawa memo untuk mencatat resep yang diujikan Bondan. Resep itu pun kerap dipraktekkan. Sreng...sreng...sreng!
Masakan yang dicicip Bondan benar-benar membuatku ngiler ingin mencobanya. Hmmmm....!
"Enaknya jadi Bondan, jalan-jalan terus makan deh," khayalku.
Pria berlogat Jawa itu pas banget membawakan acara hingga membuat penonton seakan diajaknya 'tamasya' dan 'serasa' ikut menikmati hidangan.
Komentar-komentar seputar cita rasa pun terdengar tidak asal sebab pria berambut plontos itu mengerti akan bumbu-bumbu masakan yang digunakan.
Andaaai.... A...A...Aku Jadi Bondan!
Wednesday, April 18, 2007
IPDN & Panci
Kampus pencetak 'pamong preman' terus menjadi sorotan setelah meninggalnya Praja Cliff Muntu. Penganiayaan di IPDN tidak hanya menimbulkan protes semata, tetapi juga mengundang tawa. Hahahahahaha...!
Kekerasan di IPDN ditayangkan vulgar di televisi pada Selasa (17/4/2007) pukul 20.00 WIB. Kami sekeluarga pun menontonnya, termasuk anakku Fathan yang masih berusia 3 tahun 3 bulan itu.
Tayangan itu menampilkan tiga praja berpakaian kaos putih dan celana hitam tampak antre berbaris. Praja itu bernama Reza, Fanny Fadillah, dan Ruben Omsu. Wajah mereka tampak ketakutan. Kedua tangan mereka disimpulkan untuk menahan pukulan.
Sedangkan dua praja (senior) yakni Steffi dan Peppy terbalut pakaian seragam warna coklat muda lengkap dengan topi. Mereka membentak-bentak juniornya yang dinilai melakukan kesalahan. Tangan mereka tampak mengambil ancang-ancang siap memukul.
Praja Reza yang bertubuh subur alias gendut mendapat giliran pertama dipukul. Raut wajahnya tampak mengkeret alias ciut saat dibentak-bentak praja seniornya.
Saat pukulan mendarat di perutnya, praja gendut itu hanya meringis sedikit menahan sakit. Praja senior Steffi penasaran dan langsung mendaratkan pukulan berulang kali ke praja Reza. Namun Praja Reza tampak tenang-tenang saja dan tidak terpental sedikit pun dari posisi berdirinya.
Tidak lama kemudiam, Praja Steffi justru tampak kesakitan memegangi tangannya. Kecapean...!
Tidak puas, praja Steffi lantas mengambil ancang-ancang hendak menendang Reza. Duuug....tendangan mendarat ke perut Reza.
Tetapi.....
Bukannya Praja Reza yang terjungkal, ternyata si praja senior yang malah jatuh terjungkal. Badannya membentur tong sampah warna kuning. Bruuuk!
Praja arogan itu tampak kesakitan memegang kepalanya. Darah segar pun mengucur dari kepalanya yang plontos.
Aduuuh....! Praja Steffi merintih sambil memperlihatkan darah yang mengucur dari kepalanya kepada rekannya, Praja Peppy.
"Awas kamu ya...!" ancam Praja Peppy yang berjenggot lebat dan panjang itu ke arah juniornya.
"Cepat beri formalin, biar tidak ketahuan" kata Praja Peppy. Praja Steffi pun lari terbirit-birit sambil memegangi kepalanya.
Praja Peppy langsung melanjutkan tugas rekannya. "Sekarang giliran kamu," kata Praja Peppy menunjuk ke arah Praja Fanny Fadillah yang berkulit hitam kelam itu.
Pukulan mendarat di perut pria yang dikenal dengan panggilan 'Si Ucup' Bajuri.
Bug...bug...bug! Tiga kali perut si Ucup dipukul. Pria keturunan Thionghoa ini bukannya kesakitan malah mesam-mesem.
"Aduh....aduh....," kata Praja Peppy kesakitan. Tangannya tampak merah lebam dan langsung pergi ngeloyor meninggalkan Praja Ucup dan kawan-kawannya.
Teman-teman Ucup pun terkagum-kagum. Hebat bener lu....! kata Praja Ruben yang belum mendapat giliran dipukuli.
Ucup pun lantas merogoh kaosnya dan menunjukkan tutup panci yang digunakan untuk melindungi perutnya yang 'langsing'.
"Ini dia..., kalau sekolah di bukan hanya tahan dipukulin tetapi akal juga harus panjang," pamer Ucup sambil mengacung-acungkan tutup panci yang sudah penyok terkena pukulan.
Hahahahahaha.....! Kami pun tertawa terpingkal-pingkal menonton adegan Tawa Sutra kesayangan kami di ANTV.
Kekerasan di IPDN ditayangkan vulgar di televisi pada Selasa (17/4/2007) pukul 20.00 WIB. Kami sekeluarga pun menontonnya, termasuk anakku Fathan yang masih berusia 3 tahun 3 bulan itu.
Tayangan itu menampilkan tiga praja berpakaian kaos putih dan celana hitam tampak antre berbaris. Praja itu bernama Reza, Fanny Fadillah, dan Ruben Omsu. Wajah mereka tampak ketakutan. Kedua tangan mereka disimpulkan untuk menahan pukulan.
Sedangkan dua praja (senior) yakni Steffi dan Peppy terbalut pakaian seragam warna coklat muda lengkap dengan topi. Mereka membentak-bentak juniornya yang dinilai melakukan kesalahan. Tangan mereka tampak mengambil ancang-ancang siap memukul.
Praja Reza yang bertubuh subur alias gendut mendapat giliran pertama dipukul. Raut wajahnya tampak mengkeret alias ciut saat dibentak-bentak praja seniornya.
Saat pukulan mendarat di perutnya, praja gendut itu hanya meringis sedikit menahan sakit. Praja senior Steffi penasaran dan langsung mendaratkan pukulan berulang kali ke praja Reza. Namun Praja Reza tampak tenang-tenang saja dan tidak terpental sedikit pun dari posisi berdirinya.
Tidak lama kemudiam, Praja Steffi justru tampak kesakitan memegangi tangannya. Kecapean...!
Tidak puas, praja Steffi lantas mengambil ancang-ancang hendak menendang Reza. Duuug....tendangan mendarat ke perut Reza.
Tetapi.....
Bukannya Praja Reza yang terjungkal, ternyata si praja senior yang malah jatuh terjungkal. Badannya membentur tong sampah warna kuning. Bruuuk!
Praja arogan itu tampak kesakitan memegang kepalanya. Darah segar pun mengucur dari kepalanya yang plontos.
Aduuuh....! Praja Steffi merintih sambil memperlihatkan darah yang mengucur dari kepalanya kepada rekannya, Praja Peppy.
"Awas kamu ya...!" ancam Praja Peppy yang berjenggot lebat dan panjang itu ke arah juniornya.
"Cepat beri formalin, biar tidak ketahuan" kata Praja Peppy. Praja Steffi pun lari terbirit-birit sambil memegangi kepalanya.
Praja Peppy langsung melanjutkan tugas rekannya. "Sekarang giliran kamu," kata Praja Peppy menunjuk ke arah Praja Fanny Fadillah yang berkulit hitam kelam itu.
Pukulan mendarat di perut pria yang dikenal dengan panggilan 'Si Ucup' Bajuri.
Bug...bug...bug! Tiga kali perut si Ucup dipukul. Pria keturunan Thionghoa ini bukannya kesakitan malah mesam-mesem.
"Aduh....aduh....," kata Praja Peppy kesakitan. Tangannya tampak merah lebam dan langsung pergi ngeloyor meninggalkan Praja Ucup dan kawan-kawannya.
Teman-teman Ucup pun terkagum-kagum. Hebat bener lu....! kata Praja Ruben yang belum mendapat giliran dipukuli.
Ucup pun lantas merogoh kaosnya dan menunjukkan tutup panci yang digunakan untuk melindungi perutnya yang 'langsing'.
"Ini dia..., kalau sekolah di bukan hanya tahan dipukulin tetapi akal juga harus panjang," pamer Ucup sambil mengacung-acungkan tutup panci yang sudah penyok terkena pukulan.
Hahahahahaha.....! Kami pun tertawa terpingkal-pingkal menonton adegan Tawa Sutra kesayangan kami di ANTV.
Tuesday, April 17, 2007
Busway
Bus kesayangan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menarik minat Fathan untuk menjajalnya.
"Kalau ke rumah Eyang, Fathan mau naik busway," pinta buah hatiku yang berusia 3 tahun 3 bulan itu.
Minggu pagi 15 April, aku dan eks doi sepakat meluluskan permintaan putra pertama kami.
Sebelum keliling naik busway, tentunya kami mengisi 'bensin' dulu dengan semangguk soto Lamongan langganan di Bumi Perkemahan Ragunan. Yummy....!
Setelah perut kenyang, kami pun menumpang mikrolet 15A jurusan TMII-Ragunan. Sampailah kami ke Halte Busway Ragunan.
Eks doi pun bergegas membeli karcis. Dua karcis seharga Rp 7.000 pun dibeli. 3 Unit Busway koridor 6 jurusan Ragunan-Kuningan tampak antre menunggu penumpang.
"Ayah...Fathan mau naik busway yang warnanya silver, nggak mau naik yang merah" kata Fathan yang tidak sabar masuk ke dalam bus ber-AC itu.
"Boleh...tetapi itu tergantung antrean berangkatnya Mas. Kalau yang silver dulu, ya kita naik. Tetapi kalau ternyata yang warna merah, jangan marah ya Mas, sama saja kok," sahutku ke arah Fathan yang tampak mengangguk.
Syukurnya, keinginan Fathan terkabul. Busway warna silver siap mengangkut kami. Fathan memilih duduk di deretan kursi kiri bagian depan, dekat sopir.
"Pagi....," sapa Pak Sopir ramah.
"Fathan mau jajal Busway Pak," kata eks doi.
"Oh iya, silakan," kata Pak Sopr yang mengenakan jas hitam dan peci itu tersenyum.
Busway pun melaju dan berhenti di tiap Halte. Fathan tampak menikmati 'tamasya' keliling dengan Busway. Sesekali dia memandangi penumpang yang masuk ke dalam bus.
"Bunda sandal kakak lepas," bisik Fathan sambil menahan tawa saat melihat sandal warna biru seorang bocah perempuan lepas saat masuk ke dalam busway.
"Iya Mas," kataku menimpali sambil tertawa.
Eks doi pun tidak lupa mengambil gambar Fathan di dalam Busway. "Biar ditunjukkan ke Eyang," kata suamiku.
Busway pun mengantarkan kami ke pemberhentian terakhir. Di Halte Halimun, kami pun turun. Kami bertiga pun berganti Busway yang ke arah Ragunan. Bolak-balik cuma Rp 7.000. Hehehehehe!
Kami pun naik ke busway warna merah. Fathan pun tampaknya menikmati.
Tetapi....ternyata di tengah perjalanan Fathan tertidur pulas. Sejuknya udara dari AC menambah pulas tidur Fathan.
2 Perempuan yang duduk di hadapannya pun tertawa. "Ngantuk ya Dik," kata mereka sambil terseyum.
"Kalau ke rumah Eyang, Fathan mau naik busway," pinta buah hatiku yang berusia 3 tahun 3 bulan itu.
Minggu pagi 15 April, aku dan eks doi sepakat meluluskan permintaan putra pertama kami.
Sebelum keliling naik busway, tentunya kami mengisi 'bensin' dulu dengan semangguk soto Lamongan langganan di Bumi Perkemahan Ragunan. Yummy....!
Setelah perut kenyang, kami pun menumpang mikrolet 15A jurusan TMII-Ragunan. Sampailah kami ke Halte Busway Ragunan.
Eks doi pun bergegas membeli karcis. Dua karcis seharga Rp 7.000 pun dibeli. 3 Unit Busway koridor 6 jurusan Ragunan-Kuningan tampak antre menunggu penumpang.
"Ayah...Fathan mau naik busway yang warnanya silver, nggak mau naik yang merah" kata Fathan yang tidak sabar masuk ke dalam bus ber-AC itu.
"Boleh...tetapi itu tergantung antrean berangkatnya Mas. Kalau yang silver dulu, ya kita naik. Tetapi kalau ternyata yang warna merah, jangan marah ya Mas, sama saja kok," sahutku ke arah Fathan yang tampak mengangguk.
Syukurnya, keinginan Fathan terkabul. Busway warna silver siap mengangkut kami. Fathan memilih duduk di deretan kursi kiri bagian depan, dekat sopir.
"Pagi....," sapa Pak Sopir ramah.
"Fathan mau jajal Busway Pak," kata eks doi.
"Oh iya, silakan," kata Pak Sopr yang mengenakan jas hitam dan peci itu tersenyum.
Busway pun melaju dan berhenti di tiap Halte. Fathan tampak menikmati 'tamasya' keliling dengan Busway. Sesekali dia memandangi penumpang yang masuk ke dalam bus.
"Bunda sandal kakak lepas," bisik Fathan sambil menahan tawa saat melihat sandal warna biru seorang bocah perempuan lepas saat masuk ke dalam busway.
"Iya Mas," kataku menimpali sambil tertawa.
Eks doi pun tidak lupa mengambil gambar Fathan di dalam Busway. "Biar ditunjukkan ke Eyang," kata suamiku.
Busway pun mengantarkan kami ke pemberhentian terakhir. Di Halte Halimun, kami pun turun. Kami bertiga pun berganti Busway yang ke arah Ragunan. Bolak-balik cuma Rp 7.000. Hehehehehe!
Kami pun naik ke busway warna merah. Fathan pun tampaknya menikmati.
Tetapi....ternyata di tengah perjalanan Fathan tertidur pulas. Sejuknya udara dari AC menambah pulas tidur Fathan.
2 Perempuan yang duduk di hadapannya pun tertawa. "Ngantuk ya Dik," kata mereka sambil terseyum.
Monday, April 9, 2007
Lapaaar....!
Pagi itu badanku terasa lemas, cacing di perutku pun menari. Tralala...trilili...
Fathan dan ayahnya tampak asyik bermain musik. Gitar pun dipetik sang ayah dan Fathan menabuh drum kencang-kencang di kamar kami. Lagu yang dihitkan Ahmad Albar God Bless "Rumah Kita" pun diduet bersama.
Sedangkan aku hanya tiduran di karpet sambil memegangi perut. "Enak kali ya sarapan pakai mie trus ditambah potongan cabe. Tapi duh si Yayuk masih lama lagi jemurin pakaian," khayalku. Kruyuuuk..kruyuuuk...
Grup Band itu menyanyi di depanku. Aku hanya senyam senyum meliat polah dua orang yang kusayangi. Nah...gantian aku pindah posisi. Kamar pun kukuasai dan tiduran lagi. Tidur mungkin bisa mengusir lapar.
Selang 5 menit kemudian..."Bunda kenapa"? tanya Fathan yang didampingi ayahnya.
"Lapar Mas...," sahutku lirih tak berdaya.
"Ooo lapaaar," kata mereka kompak sambil tertawa cekikikan.
"Ayah, Bunda kelaparan," ujar Fathan sambil tertawa terpingkal-pingkal. Eks doi pun tidak kalah keras ketawanya.
"Kirain maagnya kambuh, tumben jadi pendiam," canda suamiku.
Lalu, eks doi mengajakku mencari sarapan di luar. "Mau makan soto, bubur ayam, atau lontong sayur Bun," kata dia.
Tawaran itu langsung kusambut. Aku langsung bangun dari tempat tidur dan gosok gigi ke kamar mandi. Siap!
Kami pun meluncur dengan motor kesayangan ke pasar. Soto ayam menjadi pilihan menu sarapan kami. Soto Surabaya ini pas dilidah dan kantong kami. Rasanya pun enak tak kalah dengan soto di Kemang.
Apalagi soto ini menyajikan 'tambahan' khusus. Bisa tambah ceker, sayap, atau kepala. Tinggal pilih deh! Eunaak...
"Dah kenyang kan Bunda," kata Fathan sambil tertawa melihatku memakan habis semangkuk soto, seplastik peyek, dan bakwan goreng.
Fathan dan ayahnya tampak asyik bermain musik. Gitar pun dipetik sang ayah dan Fathan menabuh drum kencang-kencang di kamar kami. Lagu yang dihitkan Ahmad Albar God Bless "Rumah Kita" pun diduet bersama.
Sedangkan aku hanya tiduran di karpet sambil memegangi perut. "Enak kali ya sarapan pakai mie trus ditambah potongan cabe. Tapi duh si Yayuk masih lama lagi jemurin pakaian," khayalku. Kruyuuuk..kruyuuuk...
Grup Band itu menyanyi di depanku. Aku hanya senyam senyum meliat polah dua orang yang kusayangi. Nah...gantian aku pindah posisi. Kamar pun kukuasai dan tiduran lagi. Tidur mungkin bisa mengusir lapar.
Selang 5 menit kemudian..."Bunda kenapa"? tanya Fathan yang didampingi ayahnya.
"Lapar Mas...," sahutku lirih tak berdaya.
"Ooo lapaaar," kata mereka kompak sambil tertawa cekikikan.
"Ayah, Bunda kelaparan," ujar Fathan sambil tertawa terpingkal-pingkal. Eks doi pun tidak kalah keras ketawanya.
"Kirain maagnya kambuh, tumben jadi pendiam," canda suamiku.
Lalu, eks doi mengajakku mencari sarapan di luar. "Mau makan soto, bubur ayam, atau lontong sayur Bun," kata dia.
Tawaran itu langsung kusambut. Aku langsung bangun dari tempat tidur dan gosok gigi ke kamar mandi. Siap!
Kami pun meluncur dengan motor kesayangan ke pasar. Soto ayam menjadi pilihan menu sarapan kami. Soto Surabaya ini pas dilidah dan kantong kami. Rasanya pun enak tak kalah dengan soto di Kemang.
Apalagi soto ini menyajikan 'tambahan' khusus. Bisa tambah ceker, sayap, atau kepala. Tinggal pilih deh! Eunaak...
"Dah kenyang kan Bunda," kata Fathan sambil tertawa melihatku memakan habis semangkuk soto, seplastik peyek, dan bakwan goreng.
Monday, March 26, 2007
Dokter Cintakuuu...
Lagu dangdut yang dipopulerkan Evi Tamala dengan model pelawak Doyok pas banget di hati. Dokter cintakuuuu...
Cinta...bukan hanya dirasa saat kasmaran, tetapi juga dibutuhkan kala kita jatuh sakit. Cinta dari pasangan, cinta dari orangtua, cinta dari sang buah hati dan cinta dari keluarga menambah semangat untuk melawan penyakit yang mendera.
Seperti halnya cinta Fathan kepadaku. Hmmm...!
Fathan bak obat mujarab bagiku saat 3 hari tepar di ranjang. Sentuhan dan sapaan yang lembut membuatku tenang.
"Bunda nggak kerja, Bunda sakit ya," kata Fathan saat itu.
"Ya Bunda sakit Mas," sahutku dengan suara nyaris hilang.
Melihat eks doi sibuk memijiti tubuhku, putraku yang berusia 3 tahun tak mau ketinggalan ikut berpartisipasi.
Tubuhnya yang berbobot 22 kilogram langsung naik ke atas punggungku yang tengah tengkurap. "Injak-injak ya Bunda," kata Fathan.
"Boleh, makasih ya Mas," sahutku.
Kaki mungilnya turun naik ke atas pundak hingga pinggangku. Duh enaknyaaa....Kreeetek! Pegal-pegalku sedikit berkurang.
Fathan juga sigap membantuku. Mengambilkan sendok obat, minum, dan membiarkanku istirahat.
Makasih Dokter Cintakuuu.....
Cinta...bukan hanya dirasa saat kasmaran, tetapi juga dibutuhkan kala kita jatuh sakit. Cinta dari pasangan, cinta dari orangtua, cinta dari sang buah hati dan cinta dari keluarga menambah semangat untuk melawan penyakit yang mendera.
Seperti halnya cinta Fathan kepadaku. Hmmm...!
Fathan bak obat mujarab bagiku saat 3 hari tepar di ranjang. Sentuhan dan sapaan yang lembut membuatku tenang.
"Bunda nggak kerja, Bunda sakit ya," kata Fathan saat itu.
"Ya Bunda sakit Mas," sahutku dengan suara nyaris hilang.
Melihat eks doi sibuk memijiti tubuhku, putraku yang berusia 3 tahun tak mau ketinggalan ikut berpartisipasi.
Tubuhnya yang berbobot 22 kilogram langsung naik ke atas punggungku yang tengah tengkurap. "Injak-injak ya Bunda," kata Fathan.
"Boleh, makasih ya Mas," sahutku.
Kaki mungilnya turun naik ke atas pundak hingga pinggangku. Duh enaknyaaa....Kreeetek! Pegal-pegalku sedikit berkurang.
Fathan juga sigap membantuku. Mengambilkan sendok obat, minum, dan membiarkanku istirahat.
Makasih Dokter Cintakuuu.....
Tuesday, March 20, 2007
Lumpuh Layu
Pekan Imunisasi Nasional (PIN) digalakkan Menkes Siti Fadilah Supari guna menekan lumpuh layu alias Polio. Tetesan vaksin pun diberikan pada ribuan balita. Program itu mengingatkanku pada sepenggal kisah...
Pria tua terus menelusuri jalan sambil menggendong putranya di kawasan Taman Galaxy, Bekasi. Tubuhnya yang renta bertambah bungkuk ditindih tubuh sang buah hati yang beranjak dewasa.
Puluhan kilo ditelusurinya demi sesuap nasi. Peluh pun bercucuran membasahi wajahnya. Begitulah kegiatan Pak tua mengisi hari-harinya.
Pemandangan itulah mencuri perhatianku kala hendak pulang ke rumah.
"Ayah berhenti dulu....," pintaku pada eks doi untuk memarkirkan motornya.
Ku hampiri mereka yang tengah beristirahat di trotoar. Wajah mereka tampak letih. Pak Tua sedang mengibas-ibaskan topinya yang lusuh. Sedangkan putranya yang semula ku kira perempuan tampak duduk termangu.
"Pak....," sapaku sambil mengulurkan tangan.
Anak Bapak? "Ya... dia tidak bisa berjalan, kakinya lumpuh sejak sejak kecil," jawab Pak Tua yang duduk di samping putranya.
"Terimakasih Bu....," sahut Pak tua setelah menerima sedikit rezeki.
Lumpuh layu alias polio mengubur cita-cita pria berambut gondrong itu. Namun kasih sayang ayahandanya tetap mengiringi perjalanan hidupnya.
Entah sampai kapan........
Pria tua terus menelusuri jalan sambil menggendong putranya di kawasan Taman Galaxy, Bekasi. Tubuhnya yang renta bertambah bungkuk ditindih tubuh sang buah hati yang beranjak dewasa.
Puluhan kilo ditelusurinya demi sesuap nasi. Peluh pun bercucuran membasahi wajahnya. Begitulah kegiatan Pak tua mengisi hari-harinya.
Pemandangan itulah mencuri perhatianku kala hendak pulang ke rumah.
"Ayah berhenti dulu....," pintaku pada eks doi untuk memarkirkan motornya.
Ku hampiri mereka yang tengah beristirahat di trotoar. Wajah mereka tampak letih. Pak Tua sedang mengibas-ibaskan topinya yang lusuh. Sedangkan putranya yang semula ku kira perempuan tampak duduk termangu.
"Pak....," sapaku sambil mengulurkan tangan.
Anak Bapak? "Ya... dia tidak bisa berjalan, kakinya lumpuh sejak sejak kecil," jawab Pak Tua yang duduk di samping putranya.
"Terimakasih Bu....," sahut Pak tua setelah menerima sedikit rezeki.
Lumpuh layu alias polio mengubur cita-cita pria berambut gondrong itu. Namun kasih sayang ayahandanya tetap mengiringi perjalanan hidupnya.
Entah sampai kapan........
Tuesday, March 13, 2007
Cukur
Setelah mengantarku belanja bulanan di pasar, Ayah dan Fathan mengajak mampir ke tukang cukur. Udah panjang nih...
Kami sebelumnya mengganjal perut dengan semangkok bubur ayam. Yummy...
Itulah rencana kami mengisi hari Minggu bersama. Setelah perut keyang, Fathan dan ayahnya langsung meluncur ke tukang cukur langganannya yang jaraknya 50 meter dari si penjual bubur ayam.
"Haloo .... Fathan, darimana," sapa Pak Taryana ramah.
"Dari pasar...," sahut Fathan yang langsung bergegas naik ke kursi panjang warna, tempat biasanya pelanggan salon dicuci rambutnya.
"Siapa dulu yang dicukur," tanya Pak Taryana.
"Ayah dulu aja...," sahut jagoan cilikku sambil tiduran di kursi itu sambil ngemil kue coklat.
Mendengar jawaban Fathan, Ayahnya pun langsung duduk di kursi. Pisau cukur membabat habis rambut eks doiku. Cukup tersisa 0,5 cm!
Selesai...giliran Fathan!
Buah hatiku langsung naik ke atas papan yang dipasang di kursi. Biar agak tinggian!
Badannya dibalut kain penutup warna oranye. Fathan selalu menolak dicukur rambutnya dengan gunting, dia minta Pak Taryana menggunakan pisau cukur seperti ayahnya.
Baru 5 menit dicukur, Fathan merengek minta pulang. Bunda pulang yuk...Bunda...pulaaang...
Loh belum selesai kok minta pulang Mas? sahutku.
Fathan pun menurut. Rambutnya sedikit demi sedikit dirapikan dengan pisau cukur. Rasa kantuk rupanya tidak tertahankan.
"Sudah 5 Watt nih," kata Pak Taryana sambil mesam-mesem lihat Fathan yang merem melek. Kami pun tersenyum.
Tidak lama kemudian, Fathan benar-benar tertidur. Rambutnya terus dicukur. Tinggal poni nih.
Mumpung Fathan tertidur, Pak Taryana menjajal menggunakan gunting guna meratakan poni Fathan. Kresss...kresss....
"Jangan pake gunting....," protes Fathan yang matanya berusaha dimelekin.
"Nggak kok...," sahut Pak Taryana yang tampak terkejut.
"Kok tahu ya...," kata Pak Taryana yang langsung menggantinya dengan pisau cukur.
Kepala Fathan kadang diarahkan ke kanan, ke kiri untuk merapikan rambutnya. Pasrah...banget!
Nah saat merapikan potongan bagian depan, kepala Fathan disenderkan ke kursi. Pak Taryana pun dengan gesit membereskan pekerjaannya.
Beberapa ibu yang tengah menunggui putranya, tampak mesam-mesem melihat ulah Fathan. Seorang nenek bahkan tidak kuat menahan tawanya.
"Pak liat, lucu banget anak itu. Pules turune," ucap perempuan berkerudung itu kepada suaminya yang masih menunggu giliran sambil geleng-geleng menunjuk ke arah Fathan.
Rambut Fathan pun dirapihkan, disemprot air dan disisir. Rapiii... Rambut-rambut sisa potogan dibersihkan dari tubuhnya. Bedak pun ditaburkan untuk hilangkan gatel.
Siap dibawa pulang...
Ughhh...Kugendong Fathan yang masih tertudur lelap. Seisi ruangan itu tampaknya menoleh ke anakku. Mesam...meseeem....
Ngantuk ya Dik......
Kami sebelumnya mengganjal perut dengan semangkok bubur ayam. Yummy...
Itulah rencana kami mengisi hari Minggu bersama. Setelah perut keyang, Fathan dan ayahnya langsung meluncur ke tukang cukur langganannya yang jaraknya 50 meter dari si penjual bubur ayam.
"Haloo .... Fathan, darimana," sapa Pak Taryana ramah.
"Dari pasar...," sahut Fathan yang langsung bergegas naik ke kursi panjang warna, tempat biasanya pelanggan salon dicuci rambutnya.
"Siapa dulu yang dicukur," tanya Pak Taryana.
"Ayah dulu aja...," sahut jagoan cilikku sambil tiduran di kursi itu sambil ngemil kue coklat.
Mendengar jawaban Fathan, Ayahnya pun langsung duduk di kursi. Pisau cukur membabat habis rambut eks doiku. Cukup tersisa 0,5 cm!
Selesai...giliran Fathan!
Buah hatiku langsung naik ke atas papan yang dipasang di kursi. Biar agak tinggian!
Badannya dibalut kain penutup warna oranye. Fathan selalu menolak dicukur rambutnya dengan gunting, dia minta Pak Taryana menggunakan pisau cukur seperti ayahnya.
Baru 5 menit dicukur, Fathan merengek minta pulang. Bunda pulang yuk...Bunda...pulaaang...
Loh belum selesai kok minta pulang Mas? sahutku.
Fathan pun menurut. Rambutnya sedikit demi sedikit dirapikan dengan pisau cukur. Rasa kantuk rupanya tidak tertahankan.
"Sudah 5 Watt nih," kata Pak Taryana sambil mesam-mesem lihat Fathan yang merem melek. Kami pun tersenyum.
Tidak lama kemudian, Fathan benar-benar tertidur. Rambutnya terus dicukur. Tinggal poni nih.
Mumpung Fathan tertidur, Pak Taryana menjajal menggunakan gunting guna meratakan poni Fathan. Kresss...kresss....
"Jangan pake gunting....," protes Fathan yang matanya berusaha dimelekin.
"Nggak kok...," sahut Pak Taryana yang tampak terkejut.
"Kok tahu ya...," kata Pak Taryana yang langsung menggantinya dengan pisau cukur.
Kepala Fathan kadang diarahkan ke kanan, ke kiri untuk merapikan rambutnya. Pasrah...banget!
Nah saat merapikan potongan bagian depan, kepala Fathan disenderkan ke kursi. Pak Taryana pun dengan gesit membereskan pekerjaannya.
Beberapa ibu yang tengah menunggui putranya, tampak mesam-mesem melihat ulah Fathan. Seorang nenek bahkan tidak kuat menahan tawanya.
"Pak liat, lucu banget anak itu. Pules turune," ucap perempuan berkerudung itu kepada suaminya yang masih menunggu giliran sambil geleng-geleng menunjuk ke arah Fathan.
Rambut Fathan pun dirapihkan, disemprot air dan disisir. Rapiii... Rambut-rambut sisa potogan dibersihkan dari tubuhnya. Bedak pun ditaburkan untuk hilangkan gatel.
Siap dibawa pulang...
Ughhh...Kugendong Fathan yang masih tertudur lelap. Seisi ruangan itu tampaknya menoleh ke anakku. Mesam...meseeem....
Ngantuk ya Dik......
Saturday, March 10, 2007
Terlelap di Trotoar Menunggu Kakak Ngamen

Bocah berbadan kurus duduk bersila, badannya direbahkan di dinding bawah jembatan Cawang, Jakarta Timur. Matanya terpejam. Debu jalanan menjadi selimut penghangat tubuh. Pulaaas!
Kadang bocah itu duduk tenang sambil terus mengamati padatnya lalu lintas malam itu. Entah apa yang dipikirkan di benaknya. Dia tidak mengadahkan tangan mungilnya meminta belas kasihan setiap orang yang lewat.
Pemandangan itu kutemui kala berboncengan dengan eks doi menuju rumahku nun jauh di sana, Bekasi.
Hatiku iba melihatnya, teringat Fathan anakku yang menungguku di rumah. Tidak terasa air mataku jatuh. Cengeng hehehe!
Kucoba beranikan diri menyapanya. Malam itu, ku minta eks doi menghentikan motornya. Ku temui bocah itu yang kebetulan sedang terjaga.
Dik....siapa namanya? sapaku.
"Asep," suaranya lirih.
Sudah makan? kataku.
Kepalanya yang kecil digelengkan lemah.
Sedang apa di sini? ucapku.
"Nunggu kakak ngamen untuk beli obat emak, lagi sakit," sahutnya sambil menunjuk ke arah bocah perempuan berumur sekitar 10 tahun yang sedang bernyanyi dengan alat seadanya di samping sebuah mobil.
"Itu kakakmu," tanyaku lagi.
"Iya...disuruh nunggu di sini, takut ditabrak mobil," kata Asep.
Dik ini untuk beli makan, hati-hati ya...
"Terimakasih..," ucapnya dengan mata berbinar.
Friday, March 9, 2007
Rasanya Jadi Mobil

Paling enak nonton TV sambil rebahan di karpet dengan bantal gede empuk setelah penat seharian bekerja. Apalagi ditemani setoples cemilan. Nikmaaat!
Tetapi......
Bunda main mobil-mobilan yuk! ajak Fathan dengan wajah gembira menghampiriku.
Begini ya Bunda...Fathan langsung sibuk mengatur ini itu seakan mengarahkan. Badanku yang lagi asyik rebahan pun dipermak. Kakiku ditekuk. Kedua tanganku diletakkan lurus di atas dengkul.
Jadi mobiiil...! teriak Fathan.
Fathan pun langsung mengotak-atik tanganku seakan membuka kunci mobil. Lalu tanganku diangkatnya tinggi-tinggi seolah-olah pintu mobil terbuka. Kepala Fathan sedikit merunduk, dan masuk ke dalam mobil.
Badan Fathan yang bobotnya 20 kilo duduk di atas perutku. Ugggh....beraaat!
Tidak hanya itu.....
Mobil pun siap-siap melaju. Leherku ditusuk seperti memasukkan kunci mobil. Wajahku digoyang-goyangkan dengan tangan Fathan ke kanan dan ke kiri sesuai arah tujuannya. Brummmm...! Mulut mungilnya menirukan deru mobil.
Setelah itu, Fathan pun turun membuka tanganku (pintu mobil) dan menutupnya kembali.
Ada yang lupa....Tidak lama kemudian, anakku datang dengan berbagai bawaan yang dibawanya dari kamar. Ada tas, buka, bola, mobil-mobilan.
Fathan pun memintaku mengangkat kedua kaki seolah-olah membuka bagasi mobil.Di sela-sela kaki, dia menaruh bolanya. Lalu meminta menurunkan kakiku.
Dia tampaknya tergesa-gesa. Tanganku diangkatnya lagi, tas, buku dan mainannya dimasukkan memenuhi badanku yang terlentang. Untung badanku lebar, masuk semua.
"Terlambat kelja .....," celetuknya mesam-mesem.
Ya ampuuun...Permainan ini nggak hanya 5 menit, tetapi bisa sejam! Sekali kita bergerak melepas pegel, Fathan bisa marah-marah. "jangan begitu...jangan begituuuu ahhh!
Yang menjadi kendaraan Fathan bukan hanya Bundanya saja. Ayah dan Yayuk pun dijadikan dia mobil-mobilan. Tinggal pilih, mau terlentang jadi mobil atau tidur posisi menyamping jadi motor! Bisa kebayang kan rasanya?????
Brummm....Brummm....Brummm....
Thursday, March 8, 2007
Bye...Bye...Guling Pesing!

Guling bersarung warna kuning dielus-eluskan ke wajah, ujung kain sarung guling yang terlipat ditusuk-tusuk ke kelopak mata. Jari mungilnya mencari kain sarung yang terasa lacip dan dipencetnya. Anteeengnya anakku!
Genap 2 tahun, guling itu menjadi teman tidur Fathan. Melihat guling yang seumur dengan jagoan cilikku, bisa ditebak kan bentuk gulingnya? Duh...kumel banget, sarungnya pun lusuh meski telah dicuci berulang kali. Baunya hmmmmm. Pesiiiing....!
Fathan sayang sekali dengan guling itu. Dia selalu mencari gulingnya jika mau bobo. Kadang dia menangis keras dan mengejar-ngejar siapa pun yang mengganggunya dengan merebut atau menyembunyikan guling kesayangannya.
Guling itu juga 'wajib' kami dibawa jika Fathan berpergian jauh. Mau nginep ke rumah eyang bawa guling ...., mau pergi tamasya juga bawa guling. Menuh-menuhin tas saja!
Stooop!
Mataku terbuka setelah membaca tulisan berjudul "Mengamati kebiasaan menjelang tidur" yang dimuat sebuah situs.
Menurut LS Chandra SpKJ, dokter spesialis kesehatan jiwa dari Sanatorium Dharmawangsa, Jakarta Selatan, kebiasaan itu bisa terjadi karena si anak merasa kesepian atau dia menderita depresi ringan. Dia memerlukan sesuatu yang bisa selalu bersamanya.
Pada sebagian anak, proses pelekatan itu terjadi bukan pada orangtua, tetapi pada bantal, guling, boneka, jari tangan, dan sebagainya. Akibatnya, benda-benda tersebut atau kegiatan itu mengandung nilai emosional yang tinggi bagi si anak.
Kebiasaan itu bisa terbawa hingga dewasa, anak bisa terganggu dalam bersosialisasi. Ketika teman-temannya tahu kebiasaan anak yang dianggap aneh tersebut, dia bisa menjadi bahan olok-olok. Kondisi ini bisa mengganggu rasa percaya diri anak. Gawat nih!
Semua informasi tulisan itu kusampaikan ke eks doi saat kami bersantai. Kami pun satu suara untuk menghentikan kebiasaan Fathan.
Nah ...genap seminggu setelah ulang tahun Fathan ke-2, guling kesayangan Fathan kami sembunyikan dalam koper.
Fathan yang mau bobo pun mencarinya. Bunda...mana guling? tanya Fathan.
"Mas Fathan coba ya tidur dengan guling yang ini. Sama kan gulingnya dengan guling ayah, guling bunda," sahutku sambil menunjukkan guling baru ukuran besar.
Terus terang...nggak tega rasanya melihat wajah Fathan kebingungan dan menahan tangis.
"Nggak...mau! Fathan mau guling...Fathan mau guling...," rengeknya berulang kali. Tangis pun pecah.
Kurang puas mendengar jawaban dariku. Fathan menanyakan hal yang sama kepada ayahnya. Ayah...guling Fathan mana? ujarnya.
Jawaban suamiku pun sama. Tangis Fathan tambah meledak. Huuuwa....nggak mau...nggak mau...!
Dibuang ke tempat sampah ya Ayah...! tanya Fathan sesegukan.
Suamiku tidak sanggup menjawab. Dia hanya mendekap erat tubuh anakku sambil menciumi kepalanya. "Mas Fathan bobo dulu ya... sudah malam," sahut suamiku dengan suara tercekat.
Akhirnya... Fathan tertidur. Kami memandangi wajahnya yang masih dibasahi air mata.
Esok harinya....
Fathan masih tetap mencari gulingnya saat bobo siang.
Bu...gimana Fathan nangis cari gulingnya? Yayuk guling Fathan mana? Yayuk guling Fathan dibuang ke tempat sampah ya...? kata Yayuk menirukan rengekan Fathan dari ujung telepon.
"Bujuk pakai guling besar ya Yuk," pintaku.
Yayuk pun satu komando setelah kami ceritakan semua. "Pakai guling ini ya, Mas Fathan kan sudah besar...," sahut Yayuk.
Fathan kini tertidur pulas tanpa guling pesing.
Maafkan Ayah Bunda ya sayang.....
Wednesday, March 7, 2007
Naik Pesawat ke Pulau Kapuk

Guling diibaratkan sebagai badan pesawat. Bantal besar dan lebar digambarkan bak sayapnya. Itulah ide Fathan tentang pesawat buatannya.
"Bunda...Ayah cepet naik," ajak fathan.
Seperti dikomando, kami berdua langsung membonceng di belakangnya.
"Siaaap," teriak Fathan.
Tetetetetet...! Mulut kami kompak menirukan deru pesawat. Pilot Fathan pun mengantarkan kami ke Pulau Kapuk.
Pesawat yang diterbangkan Fathan akhirnya mendarat di Pulau Kapuk alias kasur. Kami pun kompak 'membantingkan' badan ke kasur.
"Sampaiii," kata Fathan sambil tertawa geli.
Siap-siap bobo malam....
Celengan
Tiga lembar uang ribuan kurogoh dari kantong tiap hari sebelum berangkat kerja. Satu lembar ribuan dilipat, lalu dimasukkan ujungnya ke dalam celengan gentong warna merah, milik Fathan. Dua lembar lagi diletakkan dalam dompet Fathan bergambar mobil.
"Bunda mau kelja ya, Fathan antelin ya. Bunda... uang Fathan jangan lupa," kata Fathan mengingatkan.
"Sudah ditaruh di lemari buku Mas. Coba lihat," sahutku.
Fathan langsung berlari ke kamarnya. Tangannya yang mugil menggenggam celengan dan dompet.
"Dah masuk uangnya," ujarnya sambil mengangkat celengannya.
Kalau udah banyak, Fathan mau beliin mobil-mobilan ahhhh....
"Boleh, tetapi jangan lupa beli buku untuk sekolah ya Mas," ujarku.
"He eh," jawab Fathan singkat.
Sudah 1 tahun belakangan ini, Fathan memang kulatih menabung. Biar nggak boros seperti Bundanya! hehehehe...
Bunda... yang ini buat beli susu kacang ya? pinta Fathan sambil membuka dompetnya.
"Boleh....," kataku mengiyakan.
"Bunda mau kelja ya, Fathan antelin ya. Bunda... uang Fathan jangan lupa," kata Fathan mengingatkan.
"Sudah ditaruh di lemari buku Mas. Coba lihat," sahutku.
Fathan langsung berlari ke kamarnya. Tangannya yang mugil menggenggam celengan dan dompet.
"Dah masuk uangnya," ujarnya sambil mengangkat celengannya.
Kalau udah banyak, Fathan mau beliin mobil-mobilan ahhhh....
"Boleh, tetapi jangan lupa beli buku untuk sekolah ya Mas," ujarku.
"He eh," jawab Fathan singkat.
Sudah 1 tahun belakangan ini, Fathan memang kulatih menabung. Biar nggak boros seperti Bundanya! hehehehe...
Bunda... yang ini buat beli susu kacang ya? pinta Fathan sambil membuka dompetnya.
"Boleh....," kataku mengiyakan.
Tuesday, March 6, 2007
Iki Piyeeeee Bikin Fathan Zzzzzzzzzzz
Setelah doa jelang tidur.....
Ayah....setel lagu Iki Piyeee! pinta Fathan sambil terus mengedot botol susunya.
Lagu itu 'wajib' menemani Fathan kala bobo pagi, siang, dan malam. Alunan gending Jawa yang khas pun terdengar di kamar tidur kami.
Abis...! Botol susu langsung dilemparnya.
Dongengin dong Bunda....! pinta Fathan lagi.
Satu per satu dongeng diceritakan, ada Mr Bean, Paman Kikuk, Ira Ari dll.
Sambil mendengarkan dongeng, Fathan kadang terdengar ikut menyanyikan lagu berbahasa Jawa itu sambil mendekap erat bantal bergambar mobil kesayangannya.
Ikiiii piyeeee...., ikiii piyeee.....! dendang Fathan lirih.
Matanya pun terkantuk-kantuk mendengarkan lagu yang didendangkan para penyanyi campur sarian itu.
Zzzzzzzzz.....selamat tidur sayang.
Ayah....setel lagu Iki Piyeee! pinta Fathan sambil terus mengedot botol susunya.
Lagu itu 'wajib' menemani Fathan kala bobo pagi, siang, dan malam. Alunan gending Jawa yang khas pun terdengar di kamar tidur kami.
Abis...! Botol susu langsung dilemparnya.
Dongengin dong Bunda....! pinta Fathan lagi.
Satu per satu dongeng diceritakan, ada Mr Bean, Paman Kikuk, Ira Ari dll.
Sambil mendengarkan dongeng, Fathan kadang terdengar ikut menyanyikan lagu berbahasa Jawa itu sambil mendekap erat bantal bergambar mobil kesayangannya.
Ikiiii piyeeee...., ikiii piyeee.....! dendang Fathan lirih.
Matanya pun terkantuk-kantuk mendengarkan lagu yang didendangkan para penyanyi campur sarian itu.
Zzzzzzzzz.....selamat tidur sayang.
Monday, March 5, 2007
Segerrrr
Huaaaaaw.....! Fathan nggak mau mandi pake air hangat, panaas bunda. Fathan langsung ngibrit lari dari kamar mandi sambil menangis kencang.
Bunda nakal..., Ayah nakal... Fathan nggak mau mandi pake air hangat kayak mba Vida.
Tangisannya yang super kencang itu membuat heboh seisi penghuni rumah. Kenapa...? Fathan kenapa? Tanya eyangnya sambil bergegas naik ke lantai 2.
Fathan nggak mau mandi air hangaaaat, panaaas!
Tetapi mas Fathan sedang sakit pilek, batuk....! bujuk si Yayuk.
Segarnya mandi dengan air hangat hanya dirasakan Fathan selama setahun. Kebiasaan itu sengaja dihentikan agar tubuhnya tahan dingin, dan nggak sibuk merebus air. Jadi mau kondisi tubuh fit, atau pun sedang sakit, Fathan selalu mandi dengan air dingin.
Fathan kembali ke kamar mandi setelah melihat ember air yang berisi air panas telah dibuang. Itu pun pakai dibopong dan dirayu.
"Segeeel....," celetuknya dengan nada cadel saat air dingin mengguyur
tubuhnya.
Bunda nakal..., Ayah nakal... Fathan nggak mau mandi pake air hangat kayak mba Vida.
Tangisannya yang super kencang itu membuat heboh seisi penghuni rumah. Kenapa...? Fathan kenapa? Tanya eyangnya sambil bergegas naik ke lantai 2.
Fathan nggak mau mandi air hangaaaat, panaaas!
Tetapi mas Fathan sedang sakit pilek, batuk....! bujuk si Yayuk.
Segarnya mandi dengan air hangat hanya dirasakan Fathan selama setahun. Kebiasaan itu sengaja dihentikan agar tubuhnya tahan dingin, dan nggak sibuk merebus air. Jadi mau kondisi tubuh fit, atau pun sedang sakit, Fathan selalu mandi dengan air dingin.
Fathan kembali ke kamar mandi setelah melihat ember air yang berisi air panas telah dibuang. Itu pun pakai dibopong dan dirayu.
"Segeeel....," celetuknya dengan nada cadel saat air dingin mengguyur
tubuhnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
