Hari Minggu 8 Juni 2007, hari yang istimewa. Setelah plesir ke Bogor, kali ini kita sepakat tamasya dengan mengajak anak-anak alias kru cilik (Krucil). Cihuuuy.....!
Pukul 09.00 tet, kami janjian kumpul di Halte Busway Komdak. Tetapi bisa ditebak kan? Kecuali Sis S, aku dan Sis M datang telat 30 menit. Ngaret...!
Halooo Sarah...selamat ulangtahun....! Sapa kami sambil menyerahkan bungkusan kado kepada putri kedua temanku.
Sarah dan Syifa yang kompakan memakai kaos hijau ulet keket itu pun tampak malu-malu.
Fathan, putraku tidak kalah heboh. Dia senang bukan kepalang dan berteriak histeris.
"Kenapa Fathan...An?" tanya temanku.
"Girang...," sahutku.
"Gue kira marah," kata temanku keheranan.
Kami berlima langsung bergegas menaiki anak tangga Halte Busway. Kaki-kaki mungil Krucil dengan gesit menaiki tangga. "Goyang juga...," cetus temanku. Maklum Krucil itu montok-montok!
"Hallooo......," kami menyapa Sis S yang duduk menyendiri di sudut halte.
Satu per satu Krucil menyalami Tante Irna dan saling sapa.
Busway yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, dan kami berenam bergegas masuk. Tetapi yachhh....nggak kebagian kursi.
Krucil pun digiring ke belakang supir. Mereka berdiri sambil berpegangan di besi busway. Celotehan mereka pun terdengar. "Liat ada balon....," kata Sarah kepada Fathan sambil menunjukkan jarinya.
Dua bangku pun kosong. Sarah dan Fathan langsung mengisinya. Mereka duduk berdua. Mbak Syifa tetap berdiri. Namun nggak bertahan lama, dua bocah ini ikutan berdiri bersama Syifa. Lumayan.... duduk!
Selang beberapa menit, Krucil pun dapat tempat duduk lagi. Namun Syifa ngambek nggak mau duduk. Sarah sesekali tampak mencoret-coret kertas dengan penanya. Fathan nggak mau ketinggalan. "Mana gambarnya," tanya Sarah.
"Kok nggak ada gambarnya, sini Sarah gambar ya," ujar Sarah yang genap 5 tahun ini.
Bus Transjakarta terus melaku dan akhirnya kami tiba di Halte Kota. Sampai...juga! Setelah itu kami menumpang bajaj 'Bajuri' guna menuju Museum Bahari. Terpecah jadi 2 rombongan.
Fathan rupanya ingin kumpul bareng bersama teman barunya. Sesekali dia celingukan ke belakang bajaj sambil bertanya Mbak Sarah dan Mbak Syifa.
Bajaj warna merah akhirnya sampai mengantar kami ke depan Museum yang terletak dekat pasar.
Setelah membeli tiket total seharga Rp 8.000, kami berenam masuk. Mau tau reaksi Krucil?
Aneka jenis perahu dipandangi dan dipegang. Demikian pula kemudi nahkoda pun dijajal diputar-putar bergantian.
Krucil tampak serius mengamati kerang, kura-kura, dan ikan dan cumi-cumi raksana tahun jebot yang diawetkan yang dipasang di kaca etalase.
"Ikan beracun itu apa sih Bunda," tanya Syifa.
"Ikan yang kalau terkena tubuh, kita akan keracunan," sahut temanku menjelaskan.
Langkah kaki kami menuju halaman museum. Di sana teronggok perahu nelayan. "Ini perahu beneran," tanya Sarah.
"Iyalah perahu beneran," sahut Syifa.
"Emang beneran....," celetuk Sarah sekenanya yang diiringi tawa kami.
"Wow.....ada perahu hijau, ayo naik," ajakku.
Krucil langsung menaiki perahu itu. "Ayo tangannya pura-pura ngayuh," kata Irna sambil mengarahkan pose Krucil. Jepreeeet....!
Tidak hanya di lantai I, kami naik ke lantai II. "Itu mercusuar, ini jangkar perahu," kata kami bak pemadu wisata.
Puas berkeliling museum, kami pun meninggalkan gedung tua itu. Kami menyerbu tukang minuman di pasar seberang. Hauuuuus! Teh botol, dan soft drink pun dipesan dan diseruput. Segeeer!
Monday, July 9, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment