Lagu dangdut yang dipopulerkan Evi Tamala dengan model pelawak Doyok pas banget di hati. Dokter cintakuuuu...
Cinta...bukan hanya dirasa saat kasmaran, tetapi juga dibutuhkan kala kita jatuh sakit. Cinta dari pasangan, cinta dari orangtua, cinta dari sang buah hati dan cinta dari keluarga menambah semangat untuk melawan penyakit yang mendera.
Seperti halnya cinta Fathan kepadaku. Hmmm...!
Fathan bak obat mujarab bagiku saat 3 hari tepar di ranjang. Sentuhan dan sapaan yang lembut membuatku tenang.
"Bunda nggak kerja, Bunda sakit ya," kata Fathan saat itu.
"Ya Bunda sakit Mas," sahutku dengan suara nyaris hilang.
Melihat eks doi sibuk memijiti tubuhku, putraku yang berusia 3 tahun tak mau ketinggalan ikut berpartisipasi.
Tubuhnya yang berbobot 22 kilogram langsung naik ke atas punggungku yang tengah tengkurap. "Injak-injak ya Bunda," kata Fathan.
"Boleh, makasih ya Mas," sahutku.
Kaki mungilnya turun naik ke atas pundak hingga pinggangku. Duh enaknyaaa....Kreeetek! Pegal-pegalku sedikit berkurang.
Fathan juga sigap membantuku. Mengambilkan sendok obat, minum, dan membiarkanku istirahat.
Makasih Dokter Cintakuuu.....
Monday, March 26, 2007
Tuesday, March 20, 2007
Lumpuh Layu
Pekan Imunisasi Nasional (PIN) digalakkan Menkes Siti Fadilah Supari guna menekan lumpuh layu alias Polio. Tetesan vaksin pun diberikan pada ribuan balita. Program itu mengingatkanku pada sepenggal kisah...
Pria tua terus menelusuri jalan sambil menggendong putranya di kawasan Taman Galaxy, Bekasi. Tubuhnya yang renta bertambah bungkuk ditindih tubuh sang buah hati yang beranjak dewasa.
Puluhan kilo ditelusurinya demi sesuap nasi. Peluh pun bercucuran membasahi wajahnya. Begitulah kegiatan Pak tua mengisi hari-harinya.
Pemandangan itulah mencuri perhatianku kala hendak pulang ke rumah.
"Ayah berhenti dulu....," pintaku pada eks doi untuk memarkirkan motornya.
Ku hampiri mereka yang tengah beristirahat di trotoar. Wajah mereka tampak letih. Pak Tua sedang mengibas-ibaskan topinya yang lusuh. Sedangkan putranya yang semula ku kira perempuan tampak duduk termangu.
"Pak....," sapaku sambil mengulurkan tangan.
Anak Bapak? "Ya... dia tidak bisa berjalan, kakinya lumpuh sejak sejak kecil," jawab Pak Tua yang duduk di samping putranya.
"Terimakasih Bu....," sahut Pak tua setelah menerima sedikit rezeki.
Lumpuh layu alias polio mengubur cita-cita pria berambut gondrong itu. Namun kasih sayang ayahandanya tetap mengiringi perjalanan hidupnya.
Entah sampai kapan........
Pria tua terus menelusuri jalan sambil menggendong putranya di kawasan Taman Galaxy, Bekasi. Tubuhnya yang renta bertambah bungkuk ditindih tubuh sang buah hati yang beranjak dewasa.
Puluhan kilo ditelusurinya demi sesuap nasi. Peluh pun bercucuran membasahi wajahnya. Begitulah kegiatan Pak tua mengisi hari-harinya.
Pemandangan itulah mencuri perhatianku kala hendak pulang ke rumah.
"Ayah berhenti dulu....," pintaku pada eks doi untuk memarkirkan motornya.
Ku hampiri mereka yang tengah beristirahat di trotoar. Wajah mereka tampak letih. Pak Tua sedang mengibas-ibaskan topinya yang lusuh. Sedangkan putranya yang semula ku kira perempuan tampak duduk termangu.
"Pak....," sapaku sambil mengulurkan tangan.
Anak Bapak? "Ya... dia tidak bisa berjalan, kakinya lumpuh sejak sejak kecil," jawab Pak Tua yang duduk di samping putranya.
"Terimakasih Bu....," sahut Pak tua setelah menerima sedikit rezeki.
Lumpuh layu alias polio mengubur cita-cita pria berambut gondrong itu. Namun kasih sayang ayahandanya tetap mengiringi perjalanan hidupnya.
Entah sampai kapan........
Tuesday, March 13, 2007
Cukur
Setelah mengantarku belanja bulanan di pasar, Ayah dan Fathan mengajak mampir ke tukang cukur. Udah panjang nih...
Kami sebelumnya mengganjal perut dengan semangkok bubur ayam. Yummy...
Itulah rencana kami mengisi hari Minggu bersama. Setelah perut keyang, Fathan dan ayahnya langsung meluncur ke tukang cukur langganannya yang jaraknya 50 meter dari si penjual bubur ayam.
"Haloo .... Fathan, darimana," sapa Pak Taryana ramah.
"Dari pasar...," sahut Fathan yang langsung bergegas naik ke kursi panjang warna, tempat biasanya pelanggan salon dicuci rambutnya.
"Siapa dulu yang dicukur," tanya Pak Taryana.
"Ayah dulu aja...," sahut jagoan cilikku sambil tiduran di kursi itu sambil ngemil kue coklat.
Mendengar jawaban Fathan, Ayahnya pun langsung duduk di kursi. Pisau cukur membabat habis rambut eks doiku. Cukup tersisa 0,5 cm!
Selesai...giliran Fathan!
Buah hatiku langsung naik ke atas papan yang dipasang di kursi. Biar agak tinggian!
Badannya dibalut kain penutup warna oranye. Fathan selalu menolak dicukur rambutnya dengan gunting, dia minta Pak Taryana menggunakan pisau cukur seperti ayahnya.
Baru 5 menit dicukur, Fathan merengek minta pulang. Bunda pulang yuk...Bunda...pulaaang...
Loh belum selesai kok minta pulang Mas? sahutku.
Fathan pun menurut. Rambutnya sedikit demi sedikit dirapikan dengan pisau cukur. Rasa kantuk rupanya tidak tertahankan.
"Sudah 5 Watt nih," kata Pak Taryana sambil mesam-mesem lihat Fathan yang merem melek. Kami pun tersenyum.
Tidak lama kemudian, Fathan benar-benar tertidur. Rambutnya terus dicukur. Tinggal poni nih.
Mumpung Fathan tertidur, Pak Taryana menjajal menggunakan gunting guna meratakan poni Fathan. Kresss...kresss....
"Jangan pake gunting....," protes Fathan yang matanya berusaha dimelekin.
"Nggak kok...," sahut Pak Taryana yang tampak terkejut.
"Kok tahu ya...," kata Pak Taryana yang langsung menggantinya dengan pisau cukur.
Kepala Fathan kadang diarahkan ke kanan, ke kiri untuk merapikan rambutnya. Pasrah...banget!
Nah saat merapikan potongan bagian depan, kepala Fathan disenderkan ke kursi. Pak Taryana pun dengan gesit membereskan pekerjaannya.
Beberapa ibu yang tengah menunggui putranya, tampak mesam-mesem melihat ulah Fathan. Seorang nenek bahkan tidak kuat menahan tawanya.
"Pak liat, lucu banget anak itu. Pules turune," ucap perempuan berkerudung itu kepada suaminya yang masih menunggu giliran sambil geleng-geleng menunjuk ke arah Fathan.
Rambut Fathan pun dirapihkan, disemprot air dan disisir. Rapiii... Rambut-rambut sisa potogan dibersihkan dari tubuhnya. Bedak pun ditaburkan untuk hilangkan gatel.
Siap dibawa pulang...
Ughhh...Kugendong Fathan yang masih tertudur lelap. Seisi ruangan itu tampaknya menoleh ke anakku. Mesam...meseeem....
Ngantuk ya Dik......
Kami sebelumnya mengganjal perut dengan semangkok bubur ayam. Yummy...
Itulah rencana kami mengisi hari Minggu bersama. Setelah perut keyang, Fathan dan ayahnya langsung meluncur ke tukang cukur langganannya yang jaraknya 50 meter dari si penjual bubur ayam.
"Haloo .... Fathan, darimana," sapa Pak Taryana ramah.
"Dari pasar...," sahut Fathan yang langsung bergegas naik ke kursi panjang warna, tempat biasanya pelanggan salon dicuci rambutnya.
"Siapa dulu yang dicukur," tanya Pak Taryana.
"Ayah dulu aja...," sahut jagoan cilikku sambil tiduran di kursi itu sambil ngemil kue coklat.
Mendengar jawaban Fathan, Ayahnya pun langsung duduk di kursi. Pisau cukur membabat habis rambut eks doiku. Cukup tersisa 0,5 cm!
Selesai...giliran Fathan!
Buah hatiku langsung naik ke atas papan yang dipasang di kursi. Biar agak tinggian!
Badannya dibalut kain penutup warna oranye. Fathan selalu menolak dicukur rambutnya dengan gunting, dia minta Pak Taryana menggunakan pisau cukur seperti ayahnya.
Baru 5 menit dicukur, Fathan merengek minta pulang. Bunda pulang yuk...Bunda...pulaaang...
Loh belum selesai kok minta pulang Mas? sahutku.
Fathan pun menurut. Rambutnya sedikit demi sedikit dirapikan dengan pisau cukur. Rasa kantuk rupanya tidak tertahankan.
"Sudah 5 Watt nih," kata Pak Taryana sambil mesam-mesem lihat Fathan yang merem melek. Kami pun tersenyum.
Tidak lama kemudian, Fathan benar-benar tertidur. Rambutnya terus dicukur. Tinggal poni nih.
Mumpung Fathan tertidur, Pak Taryana menjajal menggunakan gunting guna meratakan poni Fathan. Kresss...kresss....
"Jangan pake gunting....," protes Fathan yang matanya berusaha dimelekin.
"Nggak kok...," sahut Pak Taryana yang tampak terkejut.
"Kok tahu ya...," kata Pak Taryana yang langsung menggantinya dengan pisau cukur.
Kepala Fathan kadang diarahkan ke kanan, ke kiri untuk merapikan rambutnya. Pasrah...banget!
Nah saat merapikan potongan bagian depan, kepala Fathan disenderkan ke kursi. Pak Taryana pun dengan gesit membereskan pekerjaannya.
Beberapa ibu yang tengah menunggui putranya, tampak mesam-mesem melihat ulah Fathan. Seorang nenek bahkan tidak kuat menahan tawanya.
"Pak liat, lucu banget anak itu. Pules turune," ucap perempuan berkerudung itu kepada suaminya yang masih menunggu giliran sambil geleng-geleng menunjuk ke arah Fathan.
Rambut Fathan pun dirapihkan, disemprot air dan disisir. Rapiii... Rambut-rambut sisa potogan dibersihkan dari tubuhnya. Bedak pun ditaburkan untuk hilangkan gatel.
Siap dibawa pulang...
Ughhh...Kugendong Fathan yang masih tertudur lelap. Seisi ruangan itu tampaknya menoleh ke anakku. Mesam...meseeem....
Ngantuk ya Dik......
Saturday, March 10, 2007
Terlelap di Trotoar Menunggu Kakak Ngamen

Bocah berbadan kurus duduk bersila, badannya direbahkan di dinding bawah jembatan Cawang, Jakarta Timur. Matanya terpejam. Debu jalanan menjadi selimut penghangat tubuh. Pulaaas!
Kadang bocah itu duduk tenang sambil terus mengamati padatnya lalu lintas malam itu. Entah apa yang dipikirkan di benaknya. Dia tidak mengadahkan tangan mungilnya meminta belas kasihan setiap orang yang lewat.
Pemandangan itu kutemui kala berboncengan dengan eks doi menuju rumahku nun jauh di sana, Bekasi.
Hatiku iba melihatnya, teringat Fathan anakku yang menungguku di rumah. Tidak terasa air mataku jatuh. Cengeng hehehe!
Kucoba beranikan diri menyapanya. Malam itu, ku minta eks doi menghentikan motornya. Ku temui bocah itu yang kebetulan sedang terjaga.
Dik....siapa namanya? sapaku.
"Asep," suaranya lirih.
Sudah makan? kataku.
Kepalanya yang kecil digelengkan lemah.
Sedang apa di sini? ucapku.
"Nunggu kakak ngamen untuk beli obat emak, lagi sakit," sahutnya sambil menunjuk ke arah bocah perempuan berumur sekitar 10 tahun yang sedang bernyanyi dengan alat seadanya di samping sebuah mobil.
"Itu kakakmu," tanyaku lagi.
"Iya...disuruh nunggu di sini, takut ditabrak mobil," kata Asep.
Dik ini untuk beli makan, hati-hati ya...
"Terimakasih..," ucapnya dengan mata berbinar.
Friday, March 9, 2007
Rasanya Jadi Mobil

Paling enak nonton TV sambil rebahan di karpet dengan bantal gede empuk setelah penat seharian bekerja. Apalagi ditemani setoples cemilan. Nikmaaat!
Tetapi......
Bunda main mobil-mobilan yuk! ajak Fathan dengan wajah gembira menghampiriku.
Begini ya Bunda...Fathan langsung sibuk mengatur ini itu seakan mengarahkan. Badanku yang lagi asyik rebahan pun dipermak. Kakiku ditekuk. Kedua tanganku diletakkan lurus di atas dengkul.
Jadi mobiiil...! teriak Fathan.
Fathan pun langsung mengotak-atik tanganku seakan membuka kunci mobil. Lalu tanganku diangkatnya tinggi-tinggi seolah-olah pintu mobil terbuka. Kepala Fathan sedikit merunduk, dan masuk ke dalam mobil.
Badan Fathan yang bobotnya 20 kilo duduk di atas perutku. Ugggh....beraaat!
Tidak hanya itu.....
Mobil pun siap-siap melaju. Leherku ditusuk seperti memasukkan kunci mobil. Wajahku digoyang-goyangkan dengan tangan Fathan ke kanan dan ke kiri sesuai arah tujuannya. Brummmm...! Mulut mungilnya menirukan deru mobil.
Setelah itu, Fathan pun turun membuka tanganku (pintu mobil) dan menutupnya kembali.
Ada yang lupa....Tidak lama kemudian, anakku datang dengan berbagai bawaan yang dibawanya dari kamar. Ada tas, buka, bola, mobil-mobilan.
Fathan pun memintaku mengangkat kedua kaki seolah-olah membuka bagasi mobil.Di sela-sela kaki, dia menaruh bolanya. Lalu meminta menurunkan kakiku.
Dia tampaknya tergesa-gesa. Tanganku diangkatnya lagi, tas, buku dan mainannya dimasukkan memenuhi badanku yang terlentang. Untung badanku lebar, masuk semua.
"Terlambat kelja .....," celetuknya mesam-mesem.
Ya ampuuun...Permainan ini nggak hanya 5 menit, tetapi bisa sejam! Sekali kita bergerak melepas pegel, Fathan bisa marah-marah. "jangan begitu...jangan begituuuu ahhh!
Yang menjadi kendaraan Fathan bukan hanya Bundanya saja. Ayah dan Yayuk pun dijadikan dia mobil-mobilan. Tinggal pilih, mau terlentang jadi mobil atau tidur posisi menyamping jadi motor! Bisa kebayang kan rasanya?????
Brummm....Brummm....Brummm....
Thursday, March 8, 2007
Bye...Bye...Guling Pesing!

Guling bersarung warna kuning dielus-eluskan ke wajah, ujung kain sarung guling yang terlipat ditusuk-tusuk ke kelopak mata. Jari mungilnya mencari kain sarung yang terasa lacip dan dipencetnya. Anteeengnya anakku!
Genap 2 tahun, guling itu menjadi teman tidur Fathan. Melihat guling yang seumur dengan jagoan cilikku, bisa ditebak kan bentuk gulingnya? Duh...kumel banget, sarungnya pun lusuh meski telah dicuci berulang kali. Baunya hmmmmm. Pesiiiing....!
Fathan sayang sekali dengan guling itu. Dia selalu mencari gulingnya jika mau bobo. Kadang dia menangis keras dan mengejar-ngejar siapa pun yang mengganggunya dengan merebut atau menyembunyikan guling kesayangannya.
Guling itu juga 'wajib' kami dibawa jika Fathan berpergian jauh. Mau nginep ke rumah eyang bawa guling ...., mau pergi tamasya juga bawa guling. Menuh-menuhin tas saja!
Stooop!
Mataku terbuka setelah membaca tulisan berjudul "Mengamati kebiasaan menjelang tidur" yang dimuat sebuah situs.
Menurut LS Chandra SpKJ, dokter spesialis kesehatan jiwa dari Sanatorium Dharmawangsa, Jakarta Selatan, kebiasaan itu bisa terjadi karena si anak merasa kesepian atau dia menderita depresi ringan. Dia memerlukan sesuatu yang bisa selalu bersamanya.
Pada sebagian anak, proses pelekatan itu terjadi bukan pada orangtua, tetapi pada bantal, guling, boneka, jari tangan, dan sebagainya. Akibatnya, benda-benda tersebut atau kegiatan itu mengandung nilai emosional yang tinggi bagi si anak.
Kebiasaan itu bisa terbawa hingga dewasa, anak bisa terganggu dalam bersosialisasi. Ketika teman-temannya tahu kebiasaan anak yang dianggap aneh tersebut, dia bisa menjadi bahan olok-olok. Kondisi ini bisa mengganggu rasa percaya diri anak. Gawat nih!
Semua informasi tulisan itu kusampaikan ke eks doi saat kami bersantai. Kami pun satu suara untuk menghentikan kebiasaan Fathan.
Nah ...genap seminggu setelah ulang tahun Fathan ke-2, guling kesayangan Fathan kami sembunyikan dalam koper.
Fathan yang mau bobo pun mencarinya. Bunda...mana guling? tanya Fathan.
"Mas Fathan coba ya tidur dengan guling yang ini. Sama kan gulingnya dengan guling ayah, guling bunda," sahutku sambil menunjukkan guling baru ukuran besar.
Terus terang...nggak tega rasanya melihat wajah Fathan kebingungan dan menahan tangis.
"Nggak...mau! Fathan mau guling...Fathan mau guling...," rengeknya berulang kali. Tangis pun pecah.
Kurang puas mendengar jawaban dariku. Fathan menanyakan hal yang sama kepada ayahnya. Ayah...guling Fathan mana? ujarnya.
Jawaban suamiku pun sama. Tangis Fathan tambah meledak. Huuuwa....nggak mau...nggak mau...!
Dibuang ke tempat sampah ya Ayah...! tanya Fathan sesegukan.
Suamiku tidak sanggup menjawab. Dia hanya mendekap erat tubuh anakku sambil menciumi kepalanya. "Mas Fathan bobo dulu ya... sudah malam," sahut suamiku dengan suara tercekat.
Akhirnya... Fathan tertidur. Kami memandangi wajahnya yang masih dibasahi air mata.
Esok harinya....
Fathan masih tetap mencari gulingnya saat bobo siang.
Bu...gimana Fathan nangis cari gulingnya? Yayuk guling Fathan mana? Yayuk guling Fathan dibuang ke tempat sampah ya...? kata Yayuk menirukan rengekan Fathan dari ujung telepon.
"Bujuk pakai guling besar ya Yuk," pintaku.
Yayuk pun satu komando setelah kami ceritakan semua. "Pakai guling ini ya, Mas Fathan kan sudah besar...," sahut Yayuk.
Fathan kini tertidur pulas tanpa guling pesing.
Maafkan Ayah Bunda ya sayang.....
Wednesday, March 7, 2007
Naik Pesawat ke Pulau Kapuk

Guling diibaratkan sebagai badan pesawat. Bantal besar dan lebar digambarkan bak sayapnya. Itulah ide Fathan tentang pesawat buatannya.
"Bunda...Ayah cepet naik," ajak fathan.
Seperti dikomando, kami berdua langsung membonceng di belakangnya.
"Siaaap," teriak Fathan.
Tetetetetet...! Mulut kami kompak menirukan deru pesawat. Pilot Fathan pun mengantarkan kami ke Pulau Kapuk.
Pesawat yang diterbangkan Fathan akhirnya mendarat di Pulau Kapuk alias kasur. Kami pun kompak 'membantingkan' badan ke kasur.
"Sampaiii," kata Fathan sambil tertawa geli.
Siap-siap bobo malam....
Celengan
Tiga lembar uang ribuan kurogoh dari kantong tiap hari sebelum berangkat kerja. Satu lembar ribuan dilipat, lalu dimasukkan ujungnya ke dalam celengan gentong warna merah, milik Fathan. Dua lembar lagi diletakkan dalam dompet Fathan bergambar mobil.
"Bunda mau kelja ya, Fathan antelin ya. Bunda... uang Fathan jangan lupa," kata Fathan mengingatkan.
"Sudah ditaruh di lemari buku Mas. Coba lihat," sahutku.
Fathan langsung berlari ke kamarnya. Tangannya yang mugil menggenggam celengan dan dompet.
"Dah masuk uangnya," ujarnya sambil mengangkat celengannya.
Kalau udah banyak, Fathan mau beliin mobil-mobilan ahhhh....
"Boleh, tetapi jangan lupa beli buku untuk sekolah ya Mas," ujarku.
"He eh," jawab Fathan singkat.
Sudah 1 tahun belakangan ini, Fathan memang kulatih menabung. Biar nggak boros seperti Bundanya! hehehehe...
Bunda... yang ini buat beli susu kacang ya? pinta Fathan sambil membuka dompetnya.
"Boleh....," kataku mengiyakan.
"Bunda mau kelja ya, Fathan antelin ya. Bunda... uang Fathan jangan lupa," kata Fathan mengingatkan.
"Sudah ditaruh di lemari buku Mas. Coba lihat," sahutku.
Fathan langsung berlari ke kamarnya. Tangannya yang mugil menggenggam celengan dan dompet.
"Dah masuk uangnya," ujarnya sambil mengangkat celengannya.
Kalau udah banyak, Fathan mau beliin mobil-mobilan ahhhh....
"Boleh, tetapi jangan lupa beli buku untuk sekolah ya Mas," ujarku.
"He eh," jawab Fathan singkat.
Sudah 1 tahun belakangan ini, Fathan memang kulatih menabung. Biar nggak boros seperti Bundanya! hehehehe...
Bunda... yang ini buat beli susu kacang ya? pinta Fathan sambil membuka dompetnya.
"Boleh....," kataku mengiyakan.
Tuesday, March 6, 2007
Iki Piyeeeee Bikin Fathan Zzzzzzzzzzz
Setelah doa jelang tidur.....
Ayah....setel lagu Iki Piyeee! pinta Fathan sambil terus mengedot botol susunya.
Lagu itu 'wajib' menemani Fathan kala bobo pagi, siang, dan malam. Alunan gending Jawa yang khas pun terdengar di kamar tidur kami.
Abis...! Botol susu langsung dilemparnya.
Dongengin dong Bunda....! pinta Fathan lagi.
Satu per satu dongeng diceritakan, ada Mr Bean, Paman Kikuk, Ira Ari dll.
Sambil mendengarkan dongeng, Fathan kadang terdengar ikut menyanyikan lagu berbahasa Jawa itu sambil mendekap erat bantal bergambar mobil kesayangannya.
Ikiiii piyeeee...., ikiii piyeee.....! dendang Fathan lirih.
Matanya pun terkantuk-kantuk mendengarkan lagu yang didendangkan para penyanyi campur sarian itu.
Zzzzzzzzz.....selamat tidur sayang.
Ayah....setel lagu Iki Piyeee! pinta Fathan sambil terus mengedot botol susunya.
Lagu itu 'wajib' menemani Fathan kala bobo pagi, siang, dan malam. Alunan gending Jawa yang khas pun terdengar di kamar tidur kami.
Abis...! Botol susu langsung dilemparnya.
Dongengin dong Bunda....! pinta Fathan lagi.
Satu per satu dongeng diceritakan, ada Mr Bean, Paman Kikuk, Ira Ari dll.
Sambil mendengarkan dongeng, Fathan kadang terdengar ikut menyanyikan lagu berbahasa Jawa itu sambil mendekap erat bantal bergambar mobil kesayangannya.
Ikiiii piyeeee...., ikiii piyeee.....! dendang Fathan lirih.
Matanya pun terkantuk-kantuk mendengarkan lagu yang didendangkan para penyanyi campur sarian itu.
Zzzzzzzzz.....selamat tidur sayang.
Monday, March 5, 2007
Segerrrr
Huaaaaaw.....! Fathan nggak mau mandi pake air hangat, panaas bunda. Fathan langsung ngibrit lari dari kamar mandi sambil menangis kencang.
Bunda nakal..., Ayah nakal... Fathan nggak mau mandi pake air hangat kayak mba Vida.
Tangisannya yang super kencang itu membuat heboh seisi penghuni rumah. Kenapa...? Fathan kenapa? Tanya eyangnya sambil bergegas naik ke lantai 2.
Fathan nggak mau mandi air hangaaaat, panaaas!
Tetapi mas Fathan sedang sakit pilek, batuk....! bujuk si Yayuk.
Segarnya mandi dengan air hangat hanya dirasakan Fathan selama setahun. Kebiasaan itu sengaja dihentikan agar tubuhnya tahan dingin, dan nggak sibuk merebus air. Jadi mau kondisi tubuh fit, atau pun sedang sakit, Fathan selalu mandi dengan air dingin.
Fathan kembali ke kamar mandi setelah melihat ember air yang berisi air panas telah dibuang. Itu pun pakai dibopong dan dirayu.
"Segeeel....," celetuknya dengan nada cadel saat air dingin mengguyur
tubuhnya.
Bunda nakal..., Ayah nakal... Fathan nggak mau mandi pake air hangat kayak mba Vida.
Tangisannya yang super kencang itu membuat heboh seisi penghuni rumah. Kenapa...? Fathan kenapa? Tanya eyangnya sambil bergegas naik ke lantai 2.
Fathan nggak mau mandi air hangaaaat, panaaas!
Tetapi mas Fathan sedang sakit pilek, batuk....! bujuk si Yayuk.
Segarnya mandi dengan air hangat hanya dirasakan Fathan selama setahun. Kebiasaan itu sengaja dihentikan agar tubuhnya tahan dingin, dan nggak sibuk merebus air. Jadi mau kondisi tubuh fit, atau pun sedang sakit, Fathan selalu mandi dengan air dingin.
Fathan kembali ke kamar mandi setelah melihat ember air yang berisi air panas telah dibuang. Itu pun pakai dibopong dan dirayu.
"Segeeel....," celetuknya dengan nada cadel saat air dingin mengguyur
tubuhnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
