Setelah mengantarku belanja bulanan di pasar, Ayah dan Fathan mengajak mampir ke tukang cukur. Udah panjang nih...
Kami sebelumnya mengganjal perut dengan semangkok bubur ayam. Yummy...
Itulah rencana kami mengisi hari Minggu bersama. Setelah perut keyang, Fathan dan ayahnya langsung meluncur ke tukang cukur langganannya yang jaraknya 50 meter dari si penjual bubur ayam.
"Haloo .... Fathan, darimana," sapa Pak Taryana ramah.
"Dari pasar...," sahut Fathan yang langsung bergegas naik ke kursi panjang warna, tempat biasanya pelanggan salon dicuci rambutnya.
"Siapa dulu yang dicukur," tanya Pak Taryana.
"Ayah dulu aja...," sahut jagoan cilikku sambil tiduran di kursi itu sambil ngemil kue coklat.
Mendengar jawaban Fathan, Ayahnya pun langsung duduk di kursi. Pisau cukur membabat habis rambut eks doiku. Cukup tersisa 0,5 cm!
Selesai...giliran Fathan!
Buah hatiku langsung naik ke atas papan yang dipasang di kursi. Biar agak tinggian!
Badannya dibalut kain penutup warna oranye. Fathan selalu menolak dicukur rambutnya dengan gunting, dia minta Pak Taryana menggunakan pisau cukur seperti ayahnya.
Baru 5 menit dicukur, Fathan merengek minta pulang. Bunda pulang yuk...Bunda...pulaaang...
Loh belum selesai kok minta pulang Mas? sahutku.
Fathan pun menurut. Rambutnya sedikit demi sedikit dirapikan dengan pisau cukur. Rasa kantuk rupanya tidak tertahankan.
"Sudah 5 Watt nih," kata Pak Taryana sambil mesam-mesem lihat Fathan yang merem melek. Kami pun tersenyum.
Tidak lama kemudian, Fathan benar-benar tertidur. Rambutnya terus dicukur. Tinggal poni nih.
Mumpung Fathan tertidur, Pak Taryana menjajal menggunakan gunting guna meratakan poni Fathan. Kresss...kresss....
"Jangan pake gunting....," protes Fathan yang matanya berusaha dimelekin.
"Nggak kok...," sahut Pak Taryana yang tampak terkejut.
"Kok tahu ya...," kata Pak Taryana yang langsung menggantinya dengan pisau cukur.
Kepala Fathan kadang diarahkan ke kanan, ke kiri untuk merapikan rambutnya. Pasrah...banget!
Nah saat merapikan potongan bagian depan, kepala Fathan disenderkan ke kursi. Pak Taryana pun dengan gesit membereskan pekerjaannya.
Beberapa ibu yang tengah menunggui putranya, tampak mesam-mesem melihat ulah Fathan. Seorang nenek bahkan tidak kuat menahan tawanya.
"Pak liat, lucu banget anak itu. Pules turune," ucap perempuan berkerudung itu kepada suaminya yang masih menunggu giliran sambil geleng-geleng menunjuk ke arah Fathan.
Rambut Fathan pun dirapihkan, disemprot air dan disisir. Rapiii... Rambut-rambut sisa potogan dibersihkan dari tubuhnya. Bedak pun ditaburkan untuk hilangkan gatel.
Siap dibawa pulang...
Ughhh...Kugendong Fathan yang masih tertudur lelap. Seisi ruangan itu tampaknya menoleh ke anakku. Mesam...meseeem....
Ngantuk ya Dik......
Tuesday, March 13, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment