Thursday, June 21, 2007

McD=MP4=Jaka Sembung

Halooo.....! Sapaan hangat teman menyapaku via YM.
Temanku ini tengah meliput di Negeri Singa.

Kami pun bertukar cerita. Ibu 2 putri ini menceritakan pengalamannya.

"Biaya hidup di Singapura supermahal. Sekali makan saja mesti merogoh duit Rp 150 Juta," kata perempuan kelahiran 1971 ini.

"Mahal banget ce........gue beli burger Mc D aja Rp 37 ribu," ujarnya.

Sambil terus menerima laporan, aku terus saut-sautan dengannya di komputer. Obrolan itu pun didel! Takut ada yang baca. Hehehee....

"Wah murah tuh sis.....," sahutku (sambil membayangkan sis M mungkin beli MP4 buat Mas Ton). Biasanya barang elektronik itu dijual berkisar Rp 450 ribu dan Rp 1 juta.

Lantas.....aku berfikir untuk nitip membelinya. Mumpung murah buat doi! pikirku. "Titip dong......uangnya entar gue ganti," balasku lagi sambil terus menerus tak...tik...tak...tik...(ngetik) laporan.
Hehehehehe........

Aku bertanya-tanya saat membaca jawabannya. Kok ketawa....!

Nitip?????????? tanya temanku.

"Iya nitip ya, kalau perlu ngutang sama Arry (teman yang juga meliput ke Singapura). Nanti gue bayar," sahutku lagi.

"Sis.....di Jakarta aja belinya, burger Mc D cuma 20 ribu kok," kata temanku lagi.

Waaaaaks.........BURGER?????????????

Hahahahaha.........sori sis nggak nyambung! balasku.

Hahahahaha.......jaka sembung bawa golok lu sis! timpal temanku.

Ciaaaaaa1....Ciaaaaat.....!!!

Thursday, June 14, 2007

Ketroprak Pengkolan

Di ujung jalan di Jembatan 6 Perumnas Bojong Menteng, belasan orang berkerumun. Ada yang duduk-duduk, ada yang berdiri dan ada yang nangkring di atas motor. Mereka mengerubungi sebuah gerobak.

Aku dan eks doi pun jadi penasaran. Jual apa sih kok rame banget ya Yah...? tanyaku pada doi.

Selepas pulang gawe pada 13 Juni 2007, kami pun mampir untuk menjejalnya.

Sepasang suami istri paruh baya tampak super sibuk. Piring-piring dijejerin di atas gerobak. Lalu di atasnya ditaruh cabe, bawang putih, garam, gula dan bumbu kacang. Tangan mereka telaten mengulek bumbu hingga halus.

Setelah itu, ketupat, tahu, bihun dan kerupuk pun diletakkan. Terakhir tinggal disiram kecap. Tereeeng...ketoprak siap disantap!

Rasanya....

Bumbu kacangnya super legit, tahu goreng dan ketupatnya lembut, demikian pula dengan mie bihunnya. Yang paling ventiiing, rasa pedasnya menggoyang lidahku untuk teruuus....teruuus menyantapnya! Mak Nyuzzz...!

Di lidahku, ketoprak inilah yang paling enak yang pernah ku makan. Beda banget dengan ketoprak yang lewat di depan rumahku. Rasa ketoprak yang eunaaak menebus kelelahanku antre panjang.

Dengan uang Rp 5.000, penasaran kami terbayar dengan sepiring ketoprak yummy ini.

Saat kami pulang dengan perut kenyang, 10 orang masih menunggu giliran. Mereka menunggu ketoprak pesanan untuk dibawa pulang.

Praaaak...Ketopraaak... preman...preman...! Upsss....

Friday, June 8, 2007

Rahasia Sahabat.....

Setiap manusia memiliki rahasia dalam hidupnya. Ada yang disimpan rapat-rapat. Ada juga yang bersedia berbagi. Tentunya dengan orang yang dipercaya, salah satunya dengan SAHABAT.

Minggu 3 Juni 2007, aku, eks doi dan Fathan melakukan kunjungan balasan ke rumah sahabat lamaku, Viet. Brummmm....!

Setelah sempat bertanya ke sana ke mari, kami akhirnya menginjakkan kaki di rumah bercat putih di perumahan elit itu.

"Assalamualaikum....," salam kami.

Viet, Mas Pri (suaminya) dan Fani menyambut ramah. Kami pun dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Sepiring gorengan dan es sirup disajikan.

Setelah berbincang 10 menit, Fathan mengajak bermain di taman depan rumah Viet.

"Bunda...Fathan mau main ayunan," pintanya

Aku, Viet dan Fani lantas mengajak Fathan ke luar. Sementara eks doi dan Mas Pri mengobrol di ruang tamu.

Ada banyak mainan di taman depan rumah Viet. Ada prosotan, ayunan, dan jungkat-jangkit.

Fathan dan Fani bermain bersama. Sedangkan aku dan Viet ngobrol ria. Kangen...kangenan...!

Tiba-tiba mimik wajah Viet berubah serius. "An...aku mau ngomong sesuatu. Ibu dan adik-adik belum tahu," kata Viet lirih.

Aku yang tadinya cekakakan ikutan menjadi serius. "Ada apa Viet....," tanyaku.

Viet pun membagi kisahnya, yang tidak semua orang tahu. Dia membagi sedikit beban yang menghimpitnya. Mulai dari kisruh di balik mutasi sang suami, anak, hingga urusan ranjang.

Plak...plok...! Wajahku seperti ditampar. Apa yang kulihat secara kasat mata ternyata tidak seindah bayanganku. Viet kini tengah berjuang keras agar kapalnya tidak tenggelam dan karam.

"Kepala sampai cekat cekot An...mikirin semua ini. Kemarin saja sakit seminggu. Tiap malam, aku selalu tahajud minta petunjuk-Nya," kata Viet yang matanya tampak berkaca-kaca.

"Bersyukurlah An...kamu punya pekerjaan, suami yang baik, badan yang sehat, dan anak yang lucu," ujarnya.

Terima kasih ya Allah, pikiranku Kau luruskan. Lewat tangan-tangan SAHABAT-ku Kau luruskan jalanku yang telah keliru menilai.

Terima kasih SAHABAT........

Tuesday, June 5, 2007

Apa Khabar Sahabat?

Pulang kerja...aku diberitahukan si Yayuk ada telepon dari teman saat kuliah di Atma Jaya, Yogyakarta.

Telepon dari siapa? tanyaku.

"Viet Bu," sahut si Yayuk sambil memberikan nomor kontak rumah yang diberikan Viet.

Benakku melayang pada sepenggal kisah saat menimba ilmu di Kota Gudeg. Kami berdua memang temenan dan kompak. Berangkat kuliah, kadang boncengan bareng naik motor. Demikian pula jika bolos. Hehehehe......!

Meski sahabat, kami tetap sehat dalam bersaing mengejar nilai A pada setiap mata pelajaran. Kami belajar bersama dan saling membantu.

Kami juga selalu curhat soal urusan hati, termasuk masalah keluarga. Aku puna dekat dengan orangtua dan adik-adiknya yang tinggal di Kota Gudeg. Lumayan juga dapat makan gratis jika sedang singgah di rumahnya.

Namun.....

Di tengah perkuliahan akhir....Viet yang kelahiran 1972 itu akhirnya dipersunting doinya, Mas Pri, yang usianya beda 11 tahun.

Aku dan Viet mulai jarang bertemu di bangku kuliah. Aku menjalani garis hidupku dengan terus belajar hingga tamat dari Atma Jaya. Sedangkan Viet cuti kuliah karena harus mengikuti tugas sang suaminya.

Meski sibuk di dunia masing-masing, aku selalu singgah dan kadang menginap di rumah Viet, yang saat itu menemani Mas Pri dinas di Jakarta. Kami pun masih teleponan ria atau mengirim SMS. Tetapi akhirnya hubungan kami putus. Pet...!

Nah......telepon Viet menyambung kembali komunikasi kami yang bertahun-tahun terputus.

"Aku sekarang tinggal lagi di Bekasi An. Mas Pri pindah dinas lagi," kata Viet dari balik telepon.

Suaranya masih ramah seperti dulu, tidak ada yang berubah.
Viet pun menanyakan khabarku. Dia meminta bertemu.

"Aku main ya ke rumah," ujarnya.

"Boleh," sahutku.

Selang beberapa hari telepon, Viet mencari jejakku di Bekasi. Saat itu, aku pas cuti 3 hari lantaran si Yayuk mudik. Doiku juga pas nggak gawe karena flu berat.

Bersama Viet dan Mas Pri singgah di rumah mungilku yang super jauh.

Wooow........sahabatku cantik sekali! kataku berdecak kagum.

Rambutnya panjang, tubuhnya langsing dengan baju ketat. Tetapi Mas Pri tampak makin tua dimakan usia. Anjlok...!

Kami bercerita panjang lebar tentang kisah masing-masing. Mulai dari khabar putri Viet, si Funny sampai berita gempa Yogya.

Fathan pun tidak mau ketinggalan ikut-ikutan memamerkan foto miliknya. Canda tawa terdengar seperti saat kami kuliah dulu. Kenangan semasa kuliah juga berita duka disampaikan Viet.

"Bapak meninggal An, lambungnya bocor," kata Viet lirih saat kutanya kabar Bapak & Ibunya di Yogyakarta.

"Anakku kedua juga keguguran, kecapeaan bolak balik Semarang-Yogyakarta, nyetir sendiri," lanjutnya sambil melihat-lihat foto perkawinanku.

Setelah 30 menit, Viet dan Mas Pri pamitan pulang. "Kapan-kapan kita main ke rumah ya," kataku.

Byeeee.......!

Salamku Sahabat....

Telah lama tak bersua
dan sekarang. Kau di depan mata
Tidak ubah. Sikap tutur kata
Tetap akrab. Ceria harapan jiwa

Sahabat
Penuh suka
Betapa bahagia berjumpa
Salamku

Apa khabar di hidupmu
Sekian waktu. Adakah kau baik slalu

Sahabat
Dalam duka
Pelita kecil dalam gulita
Salamku

Untuk berbagi beban
dan saling mengisi
Tak perlu kita sendiri

Oh katakan rahasiamu
Ketika tak semua orang tahu
(KLA PROJECT)

Monday, June 4, 2007

Serunya...Berburu di Kota Hujan

Tet Jumat 1 Juni pukul 10.00 WIB, kami bertemu di Stasiun Bogor, Jawa Barat. Kota hujan menjadi sasaran penjelajahan mengisi libur panjang.

Pasar Sukasari jadi tujuan pertama kami di Kota Bogor. Di tempat itulah, berbagai makanan khas Bogor dijajakan. Ada asinan, cincau, toge goreng, kue rangi, dan roti unyil.

Kruyuuuk....cacing di perut mulai menari. Lapaaar! Kami pun singgah di sebuah warung di dalam Pasar Sukasari. Warung itu menjual toge goreng dan aneka soto.

Setelah 'isi bensin', kami lalu membeli oleh-oleh dahulu mengingat jalur ini tidak akan dilewati saat kami pulang nanti. Kami naik turun mikrolet dari satu tempat ke tempat lain.

Puas membeli buah tangan untuk keluarga, kami menuju PD HASAN. Di toko itulah dijual aneka bahan mulai bahan kebaya, sprei, kemeja, celana, dan jins. Pokoke komplit! Harganya pun murah meriah. Per kilo bekisar Rp 45 ribu sampai Rp 60 ribu.

Bisa juga tidak beli kiloan, misalnya 1 ons bahan kemeja yang gue beli cuma Rp 8.500. Murah kan...? Bahannya kayak bahan bermerk Accent lagi.

Penjelajahan kami selanjutnya TAJUR. Wilayah ini dikenal dengan produksi tasnya. Tas bermacam model dan merk ada di sana. Gue memang ingin sekali mencari tas ransel buat 'gawe'.

Sekitar 10 menit berkeliling toko, gue akhirnya menemukan tas ransel warna coklat. Tas ini modelnya simpel dan harganya pun sesuai kantong.

Tik...tik...tik...Hujan gerimis menyambut kami saat meninggalkan toko tas itu. Padahal cuaca panas dan terik matahari menyengat kulit.

Salah seorang teman gue nyeletuk. "Kalau hujan panas gini, biasanya hujan orang meninggal," ujar teman gue sambil sibuk mengambil gambar kemacetan di Kota Hujan itu.

Kami terakhir akan menyambangi factory outlet di sepanjang Jalan Padjadjaran. Wush...!

Sebelum berburu fashion, kami mengisi perut dengan semangkok somay. Ada somay, pare, kol, tahu dan disiram sambel kacang. Pesen sesuai selera, Mak Nyuzzz!

Kami masuk ke dalam salah satu factory outlet. Gue sebenarnya nggak minat belanja baju or celana. Ukuran body yang langsing ini kadang membuat frustasi mencari pakaian.

Mata gue pun tertarik sebuah model celana jins. Wauw...ada ukuran big lagi! Nah celana ukuran jumbo ini akhirnya gue beli. Mumpung ada yang muat...hehehe!

Puas belanja, kami pun pulang ke rumah tepat pukul 16.00 WIB. Walah perjalanan masih jauuuuuh....! Meski betis berkonde, gue puas banget!