Pulang kerja...aku diberitahukan si Yayuk ada telepon dari teman saat kuliah di Atma Jaya, Yogyakarta.
Telepon dari siapa? tanyaku.
"Viet Bu," sahut si Yayuk sambil memberikan nomor kontak rumah yang diberikan Viet.
Benakku melayang pada sepenggal kisah saat menimba ilmu di Kota Gudeg. Kami berdua memang temenan dan kompak. Berangkat kuliah, kadang boncengan bareng naik motor. Demikian pula jika bolos. Hehehehe......!
Meski sahabat, kami tetap sehat dalam bersaing mengejar nilai A pada setiap mata pelajaran. Kami belajar bersama dan saling membantu.
Kami juga selalu curhat soal urusan hati, termasuk masalah keluarga. Aku puna dekat dengan orangtua dan adik-adiknya yang tinggal di Kota Gudeg. Lumayan juga dapat makan gratis jika sedang singgah di rumahnya.
Namun.....
Di tengah perkuliahan akhir....Viet yang kelahiran 1972 itu akhirnya dipersunting doinya, Mas Pri, yang usianya beda 11 tahun.
Aku dan Viet mulai jarang bertemu di bangku kuliah. Aku menjalani garis hidupku dengan terus belajar hingga tamat dari Atma Jaya. Sedangkan Viet cuti kuliah karena harus mengikuti tugas sang suaminya.
Meski sibuk di dunia masing-masing, aku selalu singgah dan kadang menginap di rumah Viet, yang saat itu menemani Mas Pri dinas di Jakarta. Kami pun masih teleponan ria atau mengirim SMS. Tetapi akhirnya hubungan kami putus. Pet...!
Nah......telepon Viet menyambung kembali komunikasi kami yang bertahun-tahun terputus.
"Aku sekarang tinggal lagi di Bekasi An. Mas Pri pindah dinas lagi," kata Viet dari balik telepon.
Suaranya masih ramah seperti dulu, tidak ada yang berubah.
Viet pun menanyakan khabarku. Dia meminta bertemu.
"Aku main ya ke rumah," ujarnya.
"Boleh," sahutku.
Selang beberapa hari telepon, Viet mencari jejakku di Bekasi. Saat itu, aku pas cuti 3 hari lantaran si Yayuk mudik. Doiku juga pas nggak gawe karena flu berat.
Bersama Viet dan Mas Pri singgah di rumah mungilku yang super jauh.
Wooow........sahabatku cantik sekali! kataku berdecak kagum.
Rambutnya panjang, tubuhnya langsing dengan baju ketat. Tetapi Mas Pri tampak makin tua dimakan usia. Anjlok...!
Kami bercerita panjang lebar tentang kisah masing-masing. Mulai dari khabar putri Viet, si Funny sampai berita gempa Yogya.
Fathan pun tidak mau ketinggalan ikut-ikutan memamerkan foto miliknya. Canda tawa terdengar seperti saat kami kuliah dulu. Kenangan semasa kuliah juga berita duka disampaikan Viet.
"Bapak meninggal An, lambungnya bocor," kata Viet lirih saat kutanya kabar Bapak & Ibunya di Yogyakarta.
"Anakku kedua juga keguguran, kecapeaan bolak balik Semarang-Yogyakarta, nyetir sendiri," lanjutnya sambil melihat-lihat foto perkawinanku.
Setelah 30 menit, Viet dan Mas Pri pamitan pulang. "Kapan-kapan kita main ke rumah ya," kataku.
Byeeee.......!
Tuesday, June 5, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment