Minggu 25 November 2007, Fathan begitu ceria. Putraku tidak sabar ingin 'tamasya' naik kereta. Dia mandi lebih pagi dari biasanya. Hemmmmm...
"Bunda...Ayah libur? Jadi naik kereta api Thomas (kartun Thomas and Friends kesukaannya) ya," kata Fathan.
"Ya...," sahut kami kompak.
Tet jam 10.00 WIB, Fathan, aku dan doi pun melaju dengan mengendarai sepeda motor ke Stasiun Bekasi. Brummmmm...!
Setiba di stasiun, doi langsung membeli 2 tiket KA Ekspres AC jurusan Bekasi-Kota. Tiketnya Rp 10.000 per orang. Kami pun naik kereta lungsuran Jepang ini. Keretanya resik dan AC-nya berasa banget. Tempat duduknya pun empuk bak sofa.
Fathan yang duduk di tengah tidak henti-hentinya berkomentar. "Itu bangsal kereta ya Bunda? Bangsal Kikmot......," kata Fathan riang saat menyaksikan kereta yang terparkir berjejer.
Kok berhenti Ayah....? tanya Fathan.
"Ya berhenti di Stasiun Gambir dulu," sahut doi.
Fathan tampak mengamati pemandangan. Dia pun berkomentar setiap melihat pintu perlintasan kereta api. "Semua berhenti....kalau nggak, ketablak kereta," celetuknya.
Kami pun akhirnya tiba di Stasiun Kota. Nah....selanjutnya doi lalu membeli tiket untuk pulang ke Bekasi lagi. Sementara aku dan Fathan menunggu di depan kios majalah. Fathan mengawasi tiap kereta yang berhenti di stasiun.
"Itu kereta listrik ya Bunda. Kalau Thomas kereta uap," kata Fathan.
Kami lalu bergegas naik kereta api jurusan Kota-Bekasi. Namun sayangnya, kereta yang kami tumpangi ini semi ekspres via Stasiun Senen. Supaya nggak kesorean! Tarif kereta itu hanya Rp 6.000 per orang. Padahal, doi terlanjur membeli tiket kereta seharga Rp 10.000.
Nah...sambil menunggu kereta berangkat, pedagang asongan ramai menjajakan dagangannya. Ada pedagang tahu sumedang, minuman, jepitan dan mainan.
"Beli tahunya Rp 3.000 ya," kataku.
10 Tahu goreng pun kami santap habis plus cabe rawitnya. Lapar...!
Fathan tidak mau ketinggalan. Dia minta dibelikan kereta bebek warna kuning. Kweeek..kweeek..!
Hanya 30 menit kami sampai ke Stasiun Bekasi. Aku pun membeli salak pondoh seharga Rp 5.000. Lumayan!
Kami kembali ke rumah dengan motor.Tetapi, kami sejenak mengisi perut yang keroncongan dengan semangkuk Bakmi Bangka langganan kami di Jembatan 5. Nyaaam...!
Sayangnya, Fathan tidur hingga tidak memakan bakmi pesenannya. Setelah habis menyantap bakmi, aku dan doi pun pulang tetapi ternyata Fathan bangun dan meminta balik ke kedai bakmi. Fathan mau makan di sana Bunda, nggak mau dibungkus!!!!
Fathan menyantap ludes bakmi. Tidak hanya itu, kami juga sepakat membeli es podeng nan segar untuk dibawa pulang. Asyikkkk...!
Monday, November 26, 2007
Sunday, November 11, 2007
Friday, September 28, 2007
Rumahku Gerobakku
Seorang pria terus berjalan sambil menarik gerobak roda empat. Nafasnya ngos-ngosan dengan peluh menghiasi wajahnya.
Tumpukan kardus dan botol bekas dikumpulkan di dalam badan gerobak. Tidak hanya membawa hasil jerih payah yang dikaisnya seharian, ternyata ada bocah perempuan mungil yang berdiri di dalam gerobak.
Bocah bertubuh kurus itu terlihat asyik memainkan boneka lusuhnya sambil memegang pinggir gerobak. Di samping bocah itu, duduk sang ibu yang sedang memberi ASI kepada adiknya.
Nah...di gerobak bercat hitam pudar itulah Pak Mamat dan keluarga kecilnya melakukan aktivitas sehari-hari mulai dari bekerja, tidur bahkan berteduh dari hujan.
"Kami bekerja mulai dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Barang-barang rongsokan ini akan kami kiloin. Yach lumayan untuk makan," kata Pak Mamat.
Pak Mamat dan keluarga merupakan secuil potret warga Jakarta pinggiran yang tegar berjuang demi sesuap nasi.
Tumpukan kardus dan botol bekas dikumpulkan di dalam badan gerobak. Tidak hanya membawa hasil jerih payah yang dikaisnya seharian, ternyata ada bocah perempuan mungil yang berdiri di dalam gerobak.
Bocah bertubuh kurus itu terlihat asyik memainkan boneka lusuhnya sambil memegang pinggir gerobak. Di samping bocah itu, duduk sang ibu yang sedang memberi ASI kepada adiknya.
Nah...di gerobak bercat hitam pudar itulah Pak Mamat dan keluarga kecilnya melakukan aktivitas sehari-hari mulai dari bekerja, tidur bahkan berteduh dari hujan.
"Kami bekerja mulai dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Barang-barang rongsokan ini akan kami kiloin. Yach lumayan untuk makan," kata Pak Mamat.
Pak Mamat dan keluarga merupakan secuil potret warga Jakarta pinggiran yang tegar berjuang demi sesuap nasi.
Tuesday, August 14, 2007
Horeee....Fathan Bisa Genjot Sepeda
Sepulang kerja Senin 13 Agustus 2007, ada kejutan manis dari putraku, Fathan.
"Bunda...Bunda....Fathan sudah bisa genjot sepeda dong," kata Fathan.
"Wah hebat Mas...tunjukin dong. Bunda mau lihat nih," sahutku di teras rumah.
Fathan langsung mengambil sepeda roda empatnya. Dia pun unjuk gigi. Sepeda warna biru itu digenjotnya dan melaju. Roda sepeda berputar dan pedal terus digenjot. Badannya yang subur tampak lincah membelokkan stang sepeda.
"Tuh Fathan bisa kan Bunda," pamer Fathan.
"Hebat...anak Bunda bisa genjot sepeda," kataku.
Ayahnya pun tidak kalah girangnya. "Anak Ayah pintar ya," puji suamiku sambil mengelus kepala Fathan.
Sepeda mungil itu hadiah ulang tahun ke-2 Fathan dari budenya. Sejak punya sepeda, Fathan belum bisa menggenjot 'putar'. Dia hanya mengendarai sepeda patah-patah seperti bunyi rantainya. Tek..tek...tek...!
Karena belum bisa ngegoes, Fathan kerap ketinggalan dengan temen-teman sebayanya saat bersepeda ria. Fathan juga kerap memutar balik sepedanya terlebih dahulu sebelum sampai garis 'finish' saat bermain. Takut ketinggalan..!
Saat bermain, Fathan suka seenaknya memarkir sepedanya. Dia kadang membanting sepeda dengan posisi 'ditidurkan'. Bruuuk...!
Kebiasaan ini, membuat roda empat sepedanya patah. Nah ....roda itu baru kami ganti Minggu 12 Agustus kemarin. Anakku memilih roda warna merah.
Rupanya roda sepeda baru memacu semangat anakku untuk menggenjot. Apalagi mau pawai sepeda tanggal 17 Agustus nanti. Satu...dua...tiga.... sampai berulang kali!
Selamat Nak...!
"Bunda...Bunda....Fathan sudah bisa genjot sepeda dong," kata Fathan.
"Wah hebat Mas...tunjukin dong. Bunda mau lihat nih," sahutku di teras rumah.
Fathan langsung mengambil sepeda roda empatnya. Dia pun unjuk gigi. Sepeda warna biru itu digenjotnya dan melaju. Roda sepeda berputar dan pedal terus digenjot. Badannya yang subur tampak lincah membelokkan stang sepeda.
"Tuh Fathan bisa kan Bunda," pamer Fathan.
"Hebat...anak Bunda bisa genjot sepeda," kataku.
Ayahnya pun tidak kalah girangnya. "Anak Ayah pintar ya," puji suamiku sambil mengelus kepala Fathan.
Sepeda mungil itu hadiah ulang tahun ke-2 Fathan dari budenya. Sejak punya sepeda, Fathan belum bisa menggenjot 'putar'. Dia hanya mengendarai sepeda patah-patah seperti bunyi rantainya. Tek..tek...tek...!
Karena belum bisa ngegoes, Fathan kerap ketinggalan dengan temen-teman sebayanya saat bersepeda ria. Fathan juga kerap memutar balik sepedanya terlebih dahulu sebelum sampai garis 'finish' saat bermain. Takut ketinggalan..!
Saat bermain, Fathan suka seenaknya memarkir sepedanya. Dia kadang membanting sepeda dengan posisi 'ditidurkan'. Bruuuk...!
Kebiasaan ini, membuat roda empat sepedanya patah. Nah ....roda itu baru kami ganti Minggu 12 Agustus kemarin. Anakku memilih roda warna merah.
Rupanya roda sepeda baru memacu semangat anakku untuk menggenjot. Apalagi mau pawai sepeda tanggal 17 Agustus nanti. Satu...dua...tiga.... sampai berulang kali!
Selamat Nak...!
Tuesday, July 17, 2007
Ayo Sekolah....
Sama seperti orang tua lainnya, Aku dan doi super sibuk mengurusi hari pertama Fathan bersekolah.
Persiapan sudah kulakukan sejak malam. Baju, celana, tas dan sepatu kususun rapih. Biar nggak keburu-buru!
Tet jam 06.00 WIB, Fathan bangun dari tidurnya. Dia meminta sebotol susu hangat dan seiris kue bolo. Sarapan pagi sebelum ke sekolah.
Fathan selanjutnya mandi, berpakaian dan siap-siap ke sekolah. "Fathan mau sekolah Ayah," pamitnya kepada doi sebelum berangkat kerja.
"Baik-baik...ya Nak," pesan doiku.
Fathan dengan diantar aku plus pawangnya "Si Yayuk" berangkat ke sekolah. Dia tampak membawa tas ransel yang berisi makanan dan minuman. Pak Azis (ojek) pun siap mengantar dengan sepeda motornya. Bruuum....!
Setiba di sekolah, Fathan berkenalan dengan temen-temannya Bryan dan Jojo.
Nah....tiba giliran berbaris masuk kelas, Fathan rupanya tidak bisa tinggal diam. Dia memintaku mendampingi hingga masuk ke dalam kelas.
Saat duduk di kelas, mata Fathan yang berjauhan denganku tampak berkaca-kaca. Bunda...Bunda...!
Miss Elisa yang melihatnya langsung memindah tempat duduknya. "Fathan mau dekat Bunda Ya," ujarnya lembut dan dijawab anggukan kepala anak pertamaku.
Hari pertama diisi perkenalan, termasuk Fathan pun berdiri di muka kelas dan memperkenalkan diri.
"Namanya siapa," tanya Miss Gina.
"Fathan," sahutnya.
"Rumahnya di mana," kata Miss lagi.
"Bekasi," jawab Fathan.
Setelah itu, tiba giliran bermain lilin. Setelah diberi contoh Miss Elisa, Fathan mencoba membuat mobil-mobilan dan ular. Lucunya...!
Jam pulang pun tiba, tiap anak diberi hadiah gambar pesawat warna warni.
Namanya hari pertama sekolah, banyak tingkah polah anak-anak yang lucu. Ada yang menangis, ada yang terus memegang tangan sang ibu, ada juga yang ketiduran dan tidak mau duduk alias diam di kelas.
Met belajar Nak...!
Persiapan sudah kulakukan sejak malam. Baju, celana, tas dan sepatu kususun rapih. Biar nggak keburu-buru!
Tet jam 06.00 WIB, Fathan bangun dari tidurnya. Dia meminta sebotol susu hangat dan seiris kue bolo. Sarapan pagi sebelum ke sekolah.
Fathan selanjutnya mandi, berpakaian dan siap-siap ke sekolah. "Fathan mau sekolah Ayah," pamitnya kepada doi sebelum berangkat kerja.
"Baik-baik...ya Nak," pesan doiku.
Fathan dengan diantar aku plus pawangnya "Si Yayuk" berangkat ke sekolah. Dia tampak membawa tas ransel yang berisi makanan dan minuman. Pak Azis (ojek) pun siap mengantar dengan sepeda motornya. Bruuum....!
Setiba di sekolah, Fathan berkenalan dengan temen-temannya Bryan dan Jojo.
Nah....tiba giliran berbaris masuk kelas, Fathan rupanya tidak bisa tinggal diam. Dia memintaku mendampingi hingga masuk ke dalam kelas.
Saat duduk di kelas, mata Fathan yang berjauhan denganku tampak berkaca-kaca. Bunda...Bunda...!
Miss Elisa yang melihatnya langsung memindah tempat duduknya. "Fathan mau dekat Bunda Ya," ujarnya lembut dan dijawab anggukan kepala anak pertamaku.
Hari pertama diisi perkenalan, termasuk Fathan pun berdiri di muka kelas dan memperkenalkan diri.
"Namanya siapa," tanya Miss Gina.
"Fathan," sahutnya.
"Rumahnya di mana," kata Miss lagi.
"Bekasi," jawab Fathan.
Setelah itu, tiba giliran bermain lilin. Setelah diberi contoh Miss Elisa, Fathan mencoba membuat mobil-mobilan dan ular. Lucunya...!
Jam pulang pun tiba, tiap anak diberi hadiah gambar pesawat warna warni.
Namanya hari pertama sekolah, banyak tingkah polah anak-anak yang lucu. Ada yang menangis, ada yang terus memegang tangan sang ibu, ada juga yang ketiduran dan tidak mau duduk alias diam di kelas.
Met belajar Nak...!
Subscribe to:
Posts (Atom)
