
Guling bersarung warna kuning dielus-eluskan ke wajah, ujung kain sarung guling yang terlipat ditusuk-tusuk ke kelopak mata. Jari mungilnya mencari kain sarung yang terasa lacip dan dipencetnya. Anteeengnya anakku!
Genap 2 tahun, guling itu menjadi teman tidur Fathan. Melihat guling yang seumur dengan jagoan cilikku, bisa ditebak kan bentuk gulingnya? Duh...kumel banget, sarungnya pun lusuh meski telah dicuci berulang kali. Baunya hmmmmm. Pesiiiing....!
Fathan sayang sekali dengan guling itu. Dia selalu mencari gulingnya jika mau bobo. Kadang dia menangis keras dan mengejar-ngejar siapa pun yang mengganggunya dengan merebut atau menyembunyikan guling kesayangannya.
Guling itu juga 'wajib' kami dibawa jika Fathan berpergian jauh. Mau nginep ke rumah eyang bawa guling ...., mau pergi tamasya juga bawa guling. Menuh-menuhin tas saja!
Stooop!
Mataku terbuka setelah membaca tulisan berjudul "Mengamati kebiasaan menjelang tidur" yang dimuat sebuah situs.
Menurut LS Chandra SpKJ, dokter spesialis kesehatan jiwa dari Sanatorium Dharmawangsa, Jakarta Selatan, kebiasaan itu bisa terjadi karena si anak merasa kesepian atau dia menderita depresi ringan. Dia memerlukan sesuatu yang bisa selalu bersamanya.
Pada sebagian anak, proses pelekatan itu terjadi bukan pada orangtua, tetapi pada bantal, guling, boneka, jari tangan, dan sebagainya. Akibatnya, benda-benda tersebut atau kegiatan itu mengandung nilai emosional yang tinggi bagi si anak.
Kebiasaan itu bisa terbawa hingga dewasa, anak bisa terganggu dalam bersosialisasi. Ketika teman-temannya tahu kebiasaan anak yang dianggap aneh tersebut, dia bisa menjadi bahan olok-olok. Kondisi ini bisa mengganggu rasa percaya diri anak. Gawat nih!
Semua informasi tulisan itu kusampaikan ke eks doi saat kami bersantai. Kami pun satu suara untuk menghentikan kebiasaan Fathan.
Nah ...genap seminggu setelah ulang tahun Fathan ke-2, guling kesayangan Fathan kami sembunyikan dalam koper.
Fathan yang mau bobo pun mencarinya. Bunda...mana guling? tanya Fathan.
"Mas Fathan coba ya tidur dengan guling yang ini. Sama kan gulingnya dengan guling ayah, guling bunda," sahutku sambil menunjukkan guling baru ukuran besar.
Terus terang...nggak tega rasanya melihat wajah Fathan kebingungan dan menahan tangis.
"Nggak...mau! Fathan mau guling...Fathan mau guling...," rengeknya berulang kali. Tangis pun pecah.
Kurang puas mendengar jawaban dariku. Fathan menanyakan hal yang sama kepada ayahnya. Ayah...guling Fathan mana? ujarnya.
Jawaban suamiku pun sama. Tangis Fathan tambah meledak. Huuuwa....nggak mau...nggak mau...!
Dibuang ke tempat sampah ya Ayah...! tanya Fathan sesegukan.
Suamiku tidak sanggup menjawab. Dia hanya mendekap erat tubuh anakku sambil menciumi kepalanya. "Mas Fathan bobo dulu ya... sudah malam," sahut suamiku dengan suara tercekat.
Akhirnya... Fathan tertidur. Kami memandangi wajahnya yang masih dibasahi air mata.
Esok harinya....
Fathan masih tetap mencari gulingnya saat bobo siang.
Bu...gimana Fathan nangis cari gulingnya? Yayuk guling Fathan mana? Yayuk guling Fathan dibuang ke tempat sampah ya...? kata Yayuk menirukan rengekan Fathan dari ujung telepon.
"Bujuk pakai guling besar ya Yuk," pintaku.
Yayuk pun satu komando setelah kami ceritakan semua. "Pakai guling ini ya, Mas Fathan kan sudah besar...," sahut Yayuk.
Fathan kini tertidur pulas tanpa guling pesing.
Maafkan Ayah Bunda ya sayang.....

No comments:
Post a Comment