Wednesday, April 18, 2007

IPDN & Panci

Kampus pencetak 'pamong preman' terus menjadi sorotan setelah meninggalnya Praja Cliff Muntu. Penganiayaan di IPDN tidak hanya menimbulkan protes semata, tetapi juga mengundang tawa. Hahahahahaha...!

Kekerasan di IPDN ditayangkan vulgar di televisi pada Selasa (17/4/2007) pukul 20.00 WIB. Kami sekeluarga pun menontonnya, termasuk anakku Fathan yang masih berusia 3 tahun 3 bulan itu.

Tayangan itu menampilkan tiga praja berpakaian kaos putih dan celana hitam tampak antre berbaris. Praja itu bernama Reza, Fanny Fadillah, dan Ruben Omsu. Wajah mereka tampak ketakutan. Kedua tangan mereka disimpulkan untuk menahan pukulan.

Sedangkan dua praja (senior) yakni Steffi dan Peppy terbalut pakaian seragam warna coklat muda lengkap dengan topi. Mereka membentak-bentak juniornya yang dinilai melakukan kesalahan. Tangan mereka tampak mengambil ancang-ancang siap memukul.

Praja Reza yang bertubuh subur alias gendut mendapat giliran pertama dipukul. Raut wajahnya tampak mengkeret alias ciut saat dibentak-bentak praja seniornya.

Saat pukulan mendarat di perutnya, praja gendut itu hanya meringis sedikit menahan sakit. Praja senior Steffi penasaran dan langsung mendaratkan pukulan berulang kali ke praja Reza. Namun Praja Reza tampak tenang-tenang saja dan tidak terpental sedikit pun dari posisi berdirinya.

Tidak lama kemudiam, Praja Steffi justru tampak kesakitan memegangi tangannya. Kecapean...!

Tidak puas, praja Steffi lantas mengambil ancang-ancang hendak menendang Reza. Duuug....tendangan mendarat ke perut Reza.

Tetapi.....

Bukannya Praja Reza yang terjungkal, ternyata si praja senior yang malah jatuh terjungkal. Badannya membentur tong sampah warna kuning. Bruuuk!

Praja arogan itu tampak kesakitan memegang kepalanya. Darah segar pun mengucur dari kepalanya yang plontos.

Aduuuh....! Praja Steffi merintih sambil memperlihatkan darah yang mengucur dari kepalanya kepada rekannya, Praja Peppy.

"Awas kamu ya...!" ancam Praja Peppy yang berjenggot lebat dan panjang itu ke arah juniornya.

"Cepat beri formalin, biar tidak ketahuan" kata Praja Peppy. Praja Steffi pun lari terbirit-birit sambil memegangi kepalanya.

Praja Peppy langsung melanjutkan tugas rekannya. "Sekarang giliran kamu," kata Praja Peppy menunjuk ke arah Praja Fanny Fadillah yang berkulit hitam kelam itu.

Pukulan mendarat di perut pria yang dikenal dengan panggilan 'Si Ucup' Bajuri.

Bug...bug...bug! Tiga kali perut si Ucup dipukul. Pria keturunan Thionghoa ini bukannya kesakitan malah mesam-mesem.

"Aduh....aduh....," kata Praja Peppy kesakitan. Tangannya tampak merah lebam dan langsung pergi ngeloyor meninggalkan Praja Ucup dan kawan-kawannya.

Teman-teman Ucup pun terkagum-kagum. Hebat bener lu....! kata Praja Ruben yang belum mendapat giliran dipukuli.

Ucup pun lantas merogoh kaosnya dan menunjukkan tutup panci yang digunakan untuk melindungi perutnya yang 'langsing'.

"Ini dia..., kalau sekolah di bukan hanya tahan dipukulin tetapi akal juga harus panjang," pamer Ucup sambil mengacung-acungkan tutup panci yang sudah penyok terkena pukulan.

Hahahahahaha.....! Kami pun tertawa terpingkal-pingkal menonton adegan Tawa Sutra kesayangan kami di ANTV.

No comments: